
To Israeli soldiers : “We welcome you to Gaza city. Don’t be afraid, boys. Closer is better. Let’s enjoy the battle”.

To Israeli soldiers : “We welcome you to Gaza city. Don’t be afraid, boys. Closer is better. Let’s enjoy the battle”.
Hi friends, below is my Hate Speech :
No words can say for the worst naked genocide attack in the modern history (by an untouchable non-like human being species country’s army called Israel, which no land, no honors, and no any legality on all they have and they do) against Palestinians and they land nowadays, but : That’s Enough!!!

Image by : Ben Heine

Image from : Sabbah.biz

Pagi ini di infotaintment kita saksikan Rachma Azhari dengan bersimbah air mata menyesalkan tindakan Roy Suryo yang mengungkap keaslian foto-foto telanjangnya bersama Ayu Azhari, sang kakak, yang beredar di internet. Tindakan Roy Suryo dinilai merugikan karena orang jadi banyak yang tahu tentang foto tersebut dan melakukan pre judisial statement. Menurut Roy, foto telanjang Rachma asli. Menurut Rachma tidak. Nah lo Roy!
Dari sisi teknologi, sebenarnya, tidak sulit untuk mangetahui bahwa sebuah foto asli atau tidak. Tidak perlulah seorang Roy suryo melakukannya. Seorang awam seperti saya pun bisa melakukannya. Cukup dengan membaca “DNA” dari sebuh foto atau gambar menggunakan text editor semisal notepad, maka akan diperoleh data tentang kamera apa yang digunakan termasuk merek dan typenya, tanggal berapa dan jam berapa foto itu di ambil. Kalau foto itu sudah diolah dengan software grafis, maka yang terbaca adalah nama dan versi dari software grafisnya. Dengan kata lain foto tersebut dapat diklaim sudah tidak orisinil lagi.
Di sisi lain, Rachma yang memprotes ke ‘usilan’ Roy melalui jumpa pers justru sedang melakukan global campaign kepada masyarakat untuk sama-sama melihat, sekaligus menilai apakah foto itu asli atau tidak. Campaign itu pasti berdampak. Contohnya saya, walaupun saya malas melihat foto Rachma yang telanjang, setidaknya otak saya sudah tercemar dengan info remeh seperti itu.
Cuma sekarang yang saya ingin tahu, kenapa Rachma Azhari menangis? Ada banyak kemungkinan Rachma Azhari menangis. Beberapa di antaranya adalah:
1. Jengkel dengan Roy Suryo yang bilang fotonya asli
2. Malu kelihatan gak pakai baju
3. Merasa tidak pernah foto dengan pose seperti itu
4. Menyesal
5. Takut dosa
6. Belum dibayar fotografernya, kok sudah ditayangkan
7. Posenya tidak sesuai keinginan
8. Hasil gambarnya kurang bagus
9. Ternyata kurang sexy
10. Kesal kenapa baru sekarang dipublikasikan
11. Anaknya protes, “mama, kamu murahan sekali”
Mudah-mudahan Rachma menangis karena alasan nomer 3 atau kalau bener pernah foto seperti itu, alasan nangisnya nomer 4 dan 5 (sama nomer 11 deh).
Tapi kalu dipikir, sebenarnya aneh kalau Rachma menangis. Kenapa? karena foto tersebut sama sekali tidak membuat kenyataan baru tentang dirinya. Rachma adalah seorang artis cantik yng gemar berpose vulgar di internet. Coba anda ketik ’Rachma Azhari’ di searching box-nya google, lalu klik menu gambar. Hasilnya anda bisa lihat sendiri. Mencari foto yang ‘agak sopan’ untuk postingan ini saja, susahnya minta ampun. Aneh khan kalau dia nangis karena foto tersebut? Lain halnya kalau Rachma adalah seorang wanita sholihat yang berkerudung rapih, terkenal gemar mengaji dan jauh dari dugem, barulah air matanya sangat relevan. Nah kalau ini?
Sebagai awam, saya hanya bisa berpesan, Rachma, apa yang kamu lakukan sudah jauh dari jalan Nabi mu, mumpung kamu masih diberi nafas, bertaubatlah. Keindahan tubuhmu tidak ada artinya dibanding siksa kubur dan neraka. Berbuatlah sesukamu tapi ingat, sebentar lagi kamu akan mati, nak.

Nah ini juga artikel yang bisa dipelajari oleh si i am, murid saya itu yang mungkin, mungkin nih…. menyangka saya adalah vokalis nidji sebelum Giring. Saya CP (Comot and pasang) dari sini
Selamat menikmati…
Banyak kan diantara teman2 yang ingin belajar olah vocal ato kepingin bisa nyanyi..? Nah, disini saya ada sedikit tips yang saya dapet dari orang2 yang berpengalaman dibidang vocal.
untuk memulai latihan vokal yang baik itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan;
1. Relax.
Seluruh badan mulai dari kepala sampai ujung kaki harus diberi latihan supaya santai.
Misal:
ambil napas pelan-pelan, lalu hembuskan. Diulang terus dengan teratur.
Bisa juga pada saat menghembuskan badan kamu bungkukkan badan (kayak posisi rukuk waktu sholat, tapi kepala nggak lihat ke depan, tapi ke bawah (bahkan agak ngeliat ke belakang lewat kolong kedua kaki), juntaikan tangan ke bawah. Digoyangkan biar relax. (posisi kedua telapak kaki lurus ke depan dengan jarak sejengkal di antara keduanya.
Lalu perlahan-lahan naik, angkat badan kamu, tapi tumpu kekuatan lewat punggung. Jadi kamu akan ngerasa kalau tulang belakang kamu itu perlahan-lahan naik ke atas ngikutin badanmu yang ikut tegak. Selama proses itu kamu bernapas dengan teratur. (Kalau ada temanmu, dia bisa memijat punggung sembari badanmu naik menuju posisi tegak.
Itu sangat membantu proses relaksasi. Read the rest of this entry »

Berikut ada artikel yang sangat menarik yang saya CP dari blog tetangga yang sejatinya artikel ini oleh blog tetangga tersebut disadur dari blog ini.
Artikel ini adalah pesanan dari murid gitar saya (maksudnya murid saya di smp yang les privat gitar sama orang lain, gitu), i am, yang menyangka saya adalah jelmaan dari seorang vokalis ternama di zaman celana cut brai.
Selamat menikmati.
SENI ADALAH : Ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair, yang mengandung unsur-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain.
TEKNIK VOCAL adalah : Cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.
UNSUR-UNSUR TEKNIK VOCAL :
1. Artikulasi, adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas.
2. Pernafasan adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.
Pernafasan di bagi tiga jenis, yaitu : Read the rest of this entry »
Mengapa saya membuat judul demikian? Karena anak saya yang berumur 6 tahun sering mengeluh takut datang ke sekolah. Takut bukunya ketinggalan, takut lupa bawa tugas yang tidak sanggup dibuatnya (kecuali oleh bapak ibunya), takut menghadapi ulangan. Oh ya satu lagi: takut datang terlambat.
Ia baru kelas satu sd. Baru saja turun dari ayunan ban bekas di bawah pohon ceri. Kuncir kuda pada rambutnya yang terhempas ke kanan dan ke kiri ketika berlari masih ada. Senyum lebarnya menampilkan gigi-gigi gerepes karena kebanyakan makan coklat.
Suatu ketika ia menangis karena jawabannya yang dikira betul, disalahkan ibu gurunya. Di mana saja kita harus berbuat baik?, Tanya sang soal. Di mana saja, tulis anak saya. Lalu diikuti tanda silang berwarna ungu di sampingnya. SALAH. Mungkin Ibu guru ingin jawabannya seperti ini: Di sekolah, di rumah, di jalan, di kendaraan, di pasar, di lapangan, di kamar mandi, di toko buku, di terminal, di stasiun, di bandara, di kolam renang, di restoran, di dalam kabin pesawat, di rumah teman, di kelas, di rumah nenek, di kantor kepala sekolah, di ruang guru, di ruang UKS, di perpustakaan, di kantin, di laboratorium komputer, di taman bermain, di dalam mobil jemputan, di dalam kereta api, di dalam masjid, di dalam aula, di atas ojek, .. (he..he.. anda mau meneruskan?)
Di tengah malam ia pernah terbangun dan merintih takut datang ke sekolah. Karena pagi harinya ada ulangan bahasa Inggris. Takut tidak bisa mengerjakan dan nilainya jelek, katanya. Sambil saya peluk, saya bisikkan dengan lembut di telinganya, ”Jangan takut dengan nilai jelek, sayang. Yang penting kamu belajar dengan baik dan tidak menyontek. Ayah tetap sayang”. Diapun kembali tertidur dalam pelukkanku.
Kenyataannya, nilai-nilai anak saya rata-rata bagus. Hampir selalu di atas 8. Itulah yang saya dan istri prihatin. Mengapa keceriaannya sebagian tergantikan dengan kecemasan semacam itu. Anxiety disorder yang disayangkan. Karena kami sama sekali tidak pernah membahas nilai-nilainya yang kurang bagus (pernah ada nilai 6,7 dan 3,5). Yang kami bahas adalah memperbaiki semua jawaban yang salah. Kami menekankan agar belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak berbuat curang. Nilai tidak akan bisa mengukur keindahan pribadimu, nak.
Secara fitrah, anak begitu polos tanpa prasangka. Ia akan bebas menggambar sehelai daun dengan warna-warna imajinatifnya. Namun, begitu gambarnya diberi nilai, maka ia belajar menjadi munafik. Gambar-gambar berikutnya adalah gambar yang dibuat untuk menyenangkan hati sang guru.
Tidak ada yang saya sudutkan dan salahkan dengan tulisan ini. Toh semua sekolah begitu kan? Dan mungkin apa yang dialami anak saya tidak dialami yang lainnya. Hanya saja, sepertinya kita semua sedang berada dalam arah yang salah. Perhaps.
Gimana nih komentarnya, pakar pendidikan?
Tidak ada yang berani menyangkal kalau Indonesia adalah pasar yang luar biasa besarnya. Dan dahsyatnya, orang bisa menjual apa saja di Indonesia. Kira-kira apa yang tidak dijual di Indonesia? Hayo… Inilah negeri dengan ratusan juta jiwa yang membeli dengan rasionalitas rendah. Tak peduli terbuat dari apa makanan yang dimakannya, asalkan dibeli di mal, jaminan mutu. Tak peduli pakaian yang dibelinya bekas siapa, yang penting ada logo merek terkenal.
Dengan keadaan seperti itu, tak heran jika banyak produsen makanan dan minuman tidak terlalu peduli dengan label halal tercantum di kemasan produknya. Asal iklannya bagus, bakal laku keras. Apalagi produsen yang menjual franchise merek internasional, seperti Starbuck coffee, Holland Bakery, A&W Restaurant, Hanamasa, Monde Butter Cookies, American Donut. Jangan ditanya. Orang mengantri untuk sekadar duduk-duduk sambil mereguk secangkir kopi dan mengunyah sepotong donat. Jadi daripada mengurus sertifikasi halal yang ribet dan membuang dana, lebih baik merogoh kocek lebih dalam untuk belanja iklan. Kesimpulannya, label halal tidak signifikan dapat mendongkrak penjualan. Lihat saja J Co Donuts and Coffee.
Yang diperlukan dalam strategi bisnis marketing di Indonesia adalah men’drive’ pasar. Dan itu tidak sulit. Orang Indonesia memang telah menjadi driven market yang besar. Begitu mudah mensetir orang Indonesia. Begitu pramusaji mengatakan pemiliknya orang Indonesia, orang langsung menset otaknya (dimulai dari nol ya pak) bahwa produk tersebut layak dibeli, toh teman kantornya yang sering bareng sholat jumat, juga beli. Belum lagi perilaku ‘sederhana’ masyarakat dunia ketiga, jika ia pulang dari mal menenteng kotak J Co, oh saya ini sudah gaul dan masuk kelas menengah. Apalagi kalau sepatunya sudah ada tulisan Geox nya, wah saya ini keren abis dan mapan. You are what you eat. You are what you wear.
Bicara masalah makanan, sebenarnya banyak orang Indonesia yang berstatus muslim merasa ragu dan takut-takut untuk makan di Hoka-hoka Bento, J Co, maupun Hanamasa. Tapi dengan iman yang setipis benang layangan, tidak perlu diadu pun, bakal putus ditangan. Mereka tak sanggup melawan petuah otak awam dan rintihan perut karung yang terus menerus mengomel untuk segera diisi dengan makanan yang konon enak tersebut. “Ah, donat kan dari tepung. Mana mungkin ada babinya!”. Ding dong, Kedudukan 1-0 untuk lawan.
Dalam kacamata orang awam, saya merasa masyarakat Indonesia sama sekali tidak mempunyai posisi tawar terhadap penjual. Sebaliknya penjual atau produsen benar-benar sudah mencucuk hidung kerbau-kerbau peliharaannya. Mereka dapat dengan angkuhnya berkata, “Mau beli sukur, nggak ya sudah. Masih banyak yang antri”. Padahal, dengan jati diri sebagai negeri muslim terbesar di dunia, orang Indonesia seharusnya mampu mendrive alias mengatur produsen untuk bertekuk lutut dan mengemis-ngemis seraya bertanya, “Apa gerangan syarat yang paduka berikan agar produk makanan dan minuman hamba dibeli?”
Jika seluruh muslim Indonesia sepakat untuk membeli produk makanan dan minuman hanya yang ada label halalnya, he..he.. itu si Mister bule walau agamanya gak jelas, bakalan sibuk ngurus sertifikat halal ke MUI. Lha wong sampeyan mau jualan sama muslim kok. Jadi harusnya kita yang bilang, “Kalau mau mencantumkan label halal, ya sukur. Kita pertimbangkan untuk beli. Kalau nggak mau ya ndak apa-apa. Kita nggak bakal beli. Gampang aja. Gitu aja kok repot”.
Jika, dan hanya jika itu terjadi, maka kita tidak saja dapat dengan leluasa memilih beragam makanan halal yang berkualitas dari dalam negeri maupun luar, kita juga bahkan dapat menentukan standar makanan dan minuman yang bakal lewat kerongkongan kita. Misalnya dari sisi kesehatan dan manfaatnya. Sehingga nanti tidak ada lagi minuman kemasan yang mengandung aspartame dan makanan yang mengandung nitrit. Bisa saja kita mengusulkan label label lain yang akan menjamin keamanan makanan dan minuman. Kalau soal itu, urusan BPOM.
Oh ya, lantas, perlukah sertifikasi halal? Jawabnya: May. Maybe yes, maybe no.
Bagi saya, yes, perlu. Karena dengan demikian saya akan merasa tentram menikmati kelezatan roti Holland dan kerenyahan donat J Co yang dibawa istri dari acara seminar.
Bagi produsen, saat ini, no, tidak perlu. Karena tidak ada ‘hukuman’ sama sekali dari konsumen muslim Indonesia, yang imannya setipis benang layangan tadi.
Mungkin ada yang nyeletuk, “Lo pikir makanan dan minuman yang ada label halalnya, benar-benar bebas dari unsur yang tidak halal? Bisa aja ada unsur yang luput dari pengawasan MUI atau tidak dilaporkan oleh produsen”. Jawabannya, “Ehm.. bukan urusan gue!”
Nia Dinata Vs RUU APP
Jujur saja, sebelum melihat perdebatan sengit antara Nia Dinata dengan Ade Armando dkk di TV One, beberpa hari lalu, saya adalah termasuk orang yang awam terhadap RUU Anti Pornografi. Walaupun banyak sudah kawan-kawan yang mengajak untuk mendukung pengesahan RUU APP ini, saya belum beranjak dari tempat duduk saya untuk berdiri lantang dan berkata “ya saya mendukung”. Dalam hati saya, undang-undang seperti ini pasti akan disahkan juga walau banyak orang tidak setuju, karena hanya orang yang punya niat telanjang dan memamerkan alat kelaminnya kepada orang lain saja yang akan menentangnya, dan dia tentu saja orang gila. Pertanyaannya, mengapa orang-orang dengan peradaban tinggi seperti Balinese, Feminist, dan Artis goyang pantat menentangnya? Apakah mereka sudah menjadi gila? Pasti ada alasan-alasan khusus dari mereka, baik kepentingan pribadi, golongan, atau sekadar perbedaan cara berpikir.
Sebelumnya, Ade Armando dengan sangat baik merontokkan semua tuduhan dan mispersepsi seputar masalah adat istiadat. Ade secara gamblang dan meyakinkan menjelaskan bahwa tidak ada alasan sama sekali para pemegang adat istiadat seperti masyarakat Bali dan orang-orang yang gemar tampil seksi untuk terusik dengan RUU APP ini. Karena yang menjadi pokok dan issu RUU ini adalah materi-materi atau objek pornografi yang disampaikan melalui media telekomunikasi. Itupun terbatas pada 3 hal yaitu : senggama, masturbasi, dan memperlihatkan alat kelamin. Sehingga menurut Ade, orang-orang bule di Bali dapat tetap berjemur menggunakan bikini, dan orang-orang Bali tetap dapat jalan-jalan di sepanjang jalan kuta dengan pakaian ala kadarnya.
Setelah dijelaskan seperti itu, para penentang RUU APP membelokkan masalah kepada hal-hal lain seperti penafsiran tentang sesuatu yang dikatakan dalam RUU ini sebagai dapat menimbulkan birahi atau nafsu syahwat. Mereka mempertanyakan apa kriterianya dan apa definisinya sesuatu yang dapat membangkitkan gairah seks itu?. Bukankah itu sesuatu yang akan menimbulkan multi tafsir? Sebab ada orang yang melihat wanita tertutup jilbab saja sudah terangsang. Oleh karena itu, karena RUU ini dapat menimbulkan salah persepsi, maka harus dibatalkan demi hukum. Wah, kalau begini mah namanya seperti debat dengan anak kecil. Karena saya pikir kalau ada orang terangsang melihat perempuan berjilbab, pasti dia orang antik alias gak banyak stoknya di dunia ini. Lalu RUU APP jadi lebih ketat lagi untuk mengatasi orang seperti ini. Bisa-bisa ada aturan pake jilbab lagi. Alah mak!! Sesi ini saya nilai Ade Armando tidak mendapat perlawanan berarti, alias lawan debatnya gak mutu banget.
Namun di sesi ke dua, Nia Dinata tampil dengan argumen-argumen yang cukup bermutu. Banyak pertanyaannya yang membuat saya juga ikut-ikutan mikir. Misalnya mengapa bukan undang-undang anti pengeksploitasian anak dan perempuan yang dibuat jika ingin melindungi perempuan dari kejahatan seks. Jawaban dari kubu pro RUU APP (maaf saya lupa namanya) juga gak kalah bagusnya. Sampai-sampai saya jadi tidak perlu mikir lagi. He.. he… dasar aja sayanya yang telmi.
Tapi tetap saja Nia Dinata berkeras untuk menolak RUU APP ini. Nah dari kekeras kepalaan Nia Dinata menentang lawan bicaranya., saya bisa melihat beberapa perspektif lain dalam perdebatan pro dan kontra RUU APP ini, yaitu seperti apa yang dikatakan Nia, pertama perspektif perempuan yang menjadi objek pidana tanpa dilihat apakah perempuan justru menjadi korban kejahatan atau memang secara sadar dan sengaja melakukan perbuatan tertentu, lalu perspektif eksploitasi anak dan perempuan di mana anak dan perempuan adalah pihak yang paling rentan menjadi korban kekerasan seks dalam bentuk apapun mulai dari hubungan senggama yang ternyata pemerkosaan, eksibisionism yang ternyata di bawah ancaman, dsb. Lalu juga ada perspektif lain yang diajukan Nia yaitu terusiknya hak privacy mendidik dan melindungi anak dari kejahatan seks. Sebagaimana yang dikatakan Nia, bahwa urusan memberi pengarahan pada anak-anaknya agar selamat dari kejahatan seks adalah urusan pribadi yang tidak perlu diatur oleh undang-undang. Kok negara jadi demikian sok kuasa mengatur hal-hal yang sifatnya pribadi.
Tapi bukankah memang sudah menjadi tugasnya Negara untuk mengatur? Tentunya hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan umum? Sehingga bukankah bahkan menjadi sah-sah saja jika ada negara yang mewajibkan warganya untuk ikut pendidikan militer (wamil) dan memenjarakan warganya yang menolak? Dan untuk sekelumit hak pribadi yang mengabaikan kemaslahatan umum, akan menjadi obrolan basi jika esok hari anda ditabrak oleh sebuah mobil yang menolak berhenti saat lampu merah. Berhenti saat lampu merah, tidak ada relevansinya dengan keselamatan pribadi saya jika saya bisa menjaga diri dan menguasai mobil dengan baik, kata supirnya.
Bahkan Nia Dinata sempat meminta negara ikut campur tangan mengatur pemasaran film komedi seks (film dengan genre seks). Mengapa saat negara melihat penting untuk mengatur perilaku warganya yang suka nyeleneh masalah seks dan punya cara berpikir aneh (seperti gemar memperlihatkan aktifitas seksnya di media komunikasi seperti internet) dilabrak dengan gagahnya? Seolah-olah tidak ada lagi tempat untuk berdiskusi?
Terdorong dari rasa kesal karena informasi yang saya butuhkan tidak terpenuhi, saya coba untuk membagi hasil catatan kecil saya saat mudik lebaran lalu ke Menggala, Lampung, kepada anda semua. Yah barangkali ada gunanya. Oh ya informasi apaan sih? Itu lho jarak tempuh kendaraan dari Jakarta ke Menggala berapa kilometer?
Saat berangkat, 25 September 2008 dari POM Bensin di Jalan Pitara Depok, saya mereset pengukur (oedometer) jarak kembali ke posisi 0 km. Nah, sialnya, saya lupa untuk mencatat km pada oedometer saat melewati kota-kota penting yang kami lalui seperti Merak, Bandar Lampung, dsb. Saya baru ingat hal itu ketika pas sampai di rumah mertua di Menggala. Saat melirik oedometer, angka menunjukkan angka 374 Km. Well, setidaknya ada sebuah kesimpulan yaitu jarak Depok – Menggala adalah 374 Km. Tapi ada tapinya nih. Saat di Bandar Lampung, kami sempat keliling kota Tanjung Karang mengunjungi famili di sana, jadi catatan itu kurang akurat, mungkin kira-kira menyimpang 20 Km. Read the rest of this entry »
by Mohamad Hary
Dalam kalut pikiranmu
Kami titipkan nafas sumbang generasi baru
Yang canggung menapak zaman
Gamang meniti waktu
Di balik kemeja usangmu
Bau kapur ramah menyapa
Peluh dingin di depan kelas
Saat petuah suci dibalas tawa
Dalam lelah
di tengah kemilau kulit mulus muridmu
Senyummu kecut
Memandang terompah di kakimu Read the rest of this entry »