by Mohamad Hary W A

image taken from savagechickens
Seorang senior HR manager pada sebuah bank pemerintah pernah mengatakan, jika ada karyawan yang sering datang terlambat, sering mangkir, pulang lebih awal, dan banyak pekerjaannya tidak beres, kemungkinan besar dia merasakan tempat kerjanya sudah bagaikan neraka. Tinggal menentukan saja jenis nerakanya, neraka wail atau jahannam.
Bagi orang ini, melihat pimpinan sudah seperti melihat penjaga neraka. Jangankan dipanggil ke ruang pimpinan, melihat senyum sang pemimpin pun bagaikan melihat seringai malaikat Malik. Ironisnya, sebetulnya ia tengah berada di sebuah tempat laksana surga lengkap dengan peri-peri cantik yang mondar-mandir melayani dan seorang penjaga ‘kebun’ yang baik hati.
Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang merasakan ‘hawa neraka’ alias ketidaknyamanan dan frustrasi di tempat kerja. Bisa karena pimpinannya bawel dan banyak mendikte, teman-teman kerja yang senangnya mengkritik, atau merasa karirnya tidak naik-naik sementara rekan yang baru masuk dan menurutnya memiliki kemampuan lebih rendah, lebih banyak mendapatkan kepercayaan atasan.
Mungkin untuk merubahnya kita bisa berkhayal, misalnya dengan mengkudeta sang pimpinan yang bawel dan banyak mendikte itu melalui Gerakan 30 Juni (G30J), memecat semua rekan kerja yang menyebalkan, lalu membuat siaran pers di RRI bahwa saat ini perusahaan di bawah kendali penuh kita. Atau yang mudahnya, kita kabur saja, melarikan diri alias resign.
Namun sebetulnya kuncinya ada di otak kita. Pikiran kitalah yang menciptakan neraka tadi. Guru-guru terbaik yang mengajarkan banyak hal kepada kita, dibayangkan sebagai siluman dari rumah jagal Cakung. Padahal, pimpinan yang bawel dan banyak mendikte itu adalah guru yang mengajarkan bahwa jika ingin berhasil, kamu harus kuat dibanting, dan jika ingin menjadi pemimpin yang baik, belajarlah untuk loyal kepada atasanmu saat ini, dan kamupun harus paham bahwa bawel dan banyak mendikte itu tidak disukai bawahanmu. Rekan kerja yang banyak kritik mengajarkan kepada anda bahwa jika ingin sukses, anda harus bisa mempertanggung jawabkan seluruh pekerjaan anda. Dan anda belajar bahwa mengkritik bagaikan menghujamkan pisau ke dalam dada orang lain. Mereka akan tersedak, melolong kesakitan, dan koma. Meskipun sembuh dari koma, luka jahitan akan tetap berbekas walau dijahit oleh dokter spesialis RS Mitra, dan traumanya akan terus mengikuti sepanjang hidup. Kita menjadi paham kalau dikritik itu sakit. Oleh karenanya berpikirlah baik-baik sebelum mengkritik teman anda, terutama kritikan yang hanya didasari perasaan tidak suka.
Tidak heran kalau seorang Scientologist, L. Ron Hubbard di awal 1950-an berkata, “Orang berkembang, anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang”. Dia akan babak belur, tapi kemudian sukses.
Nelayan jepang punya cara unik untuk membawa ikan hasil tangkapan mereka tetap segar sesampainya di darat setelah perjalanan panjang dari tengah samudra. Mereka tidak membekukan ikan tersebut, karena orang jepang bisa merasakan ikan itu sudah tidak segar lagi. Mereka, para nelayan juga tidak hanya memasukkan ikan-ikan ke dalam tangki besar berisi air, karena ikan yang berjejalan di tangki membuat ikan diam dan lemas. Itu mengurangi kesegaran ikan. Maka solusi yang dilakukan agar ikan tetap segar sesampainya di darat adalah, tetap memasukkannya ke dalam tangki berisi air, tapi lengkap dengan seekor hiu kecil di dalamnya! Sangat sederhana. Ikan hiu itu telah membuat ikan-ikan terus bergerak aktif. Walaupun rasanya seperti diteror preman ambon, tapi tubuh mereka terbukti menjadi tetap segar dalam jangka waktu lama.
Jadi, kesimpulannya, untuk merubah neraka menjadi surga, kita perlu membingkai ulang (reframing) apa yang kita hadapi dan rasakan sehari-hari dengan bingkai yang baik dan kaca yang jernih. Sebab bisa jadi diri kitalah yang sesungguhnya keras kepala, gampang tersinggung, dan bermental memble. Sehingga sedikit saja orang lain mengkritik dan membentak, kita jadikan sebagai alasan kuat untuk down atau melarikan diri (resign). Jika kita lari, sesungguhnya kita telah drop out dari kuliah manajemen. Dan kalau kita menganggap telah berhasil keluar dari neraka, sebenarnya kita sedang berjalan menuju ke pintu neraka yang lain karena neraka itu masih ada di dalam pikiran kita!
Referensi:
http://klinikotak.blogspot.com/