Moralitas Pendidikan Anak

Mengapa saya membuat judul demikian? Karena anak saya yang berumur 6 tahun sering mengeluh takut datang ke sekolah. Takut bukunya ketinggalan, takut lupa bawa tugas yang tidak sanggup dibuatnya (kecuali oleh bapak ibunya), takut menghadapi ulangan. Oh ya satu lagi: takut datang terlambat.
Ia baru kelas satu sd. Baru saja turun dari ayunan ban bekas di bawah pohon ceri. Kuncir kuda pada rambutnya yang terhempas ke kanan dan ke kiri ketika berlari masih ada. Senyum lebarnya menampilkan gigi-gigi gerepes karena kebanyakan makan coklat.
Suatu ketika ia menangis karena jawabannya yang dikira betul, disalahkan ibu gurunya. Di mana saja kita harus berbuat baik?, Tanya sang soal. Di mana saja, tulis anak saya. Lalu diikuti tanda silang berwarna ungu di sampingnya. SALAH. Mungkin Ibu guru ingin jawabannya seperti ini: Di sekolah, di rumah, di jalan, di kendaraan, di pasar, di lapangan, di kamar mandi, di toko buku, di terminal, di stasiun, di bandara, di kolam renang, di restoran, di dalam kabin pesawat, di rumah teman, di kelas, di rumah nenek, di kantor kepala sekolah, di ruang guru, di ruang UKS, di perpustakaan, di kantin, di laboratorium komputer, di taman bermain, di dalam mobil jemputan, di dalam kereta api, di dalam masjid, di dalam aula, di atas ojek, .. (he..he.. anda mau meneruskan?)
Di tengah malam ia pernah terbangun dan merintih takut datang ke sekolah. Karena pagi harinya ada ulangan bahasa Inggris. Takut tidak bisa mengerjakan dan nilainya jelek, katanya. Sambil saya peluk, saya bisikkan dengan lembut di telinganya, ”Jangan takut dengan nilai jelek, sayang. Yang penting kamu belajar dengan baik dan tidak menyontek. Ayah tetap sayang”. Diapun kembali tertidur dalam pelukkanku.
Kenyataannya, nilai-nilai anak saya rata-rata bagus. Hampir selalu di atas 8. Itulah yang saya dan istri prihatin. Mengapa keceriaannya sebagian tergantikan dengan kecemasan semacam itu. Anxiety disorder yang disayangkan. Karena kami sama sekali tidak pernah membahas nilai-nilainya yang kurang bagus (pernah ada nilai 6,7 dan 3,5). Yang kami bahas adalah memperbaiki semua jawaban yang salah. Kami menekankan agar belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak berbuat curang. Nilai tidak akan bisa mengukur keindahan pribadimu, nak.
Secara fitrah, anak begitu polos tanpa prasangka. Ia akan bebas menggambar sehelai daun dengan warna-warna imajinatifnya. Namun, begitu gambarnya diberi nilai, maka ia belajar menjadi munafik. Gambar-gambar berikutnya adalah gambar yang dibuat untuk menyenangkan hati sang guru.
Tidak ada yang saya sudutkan dan salahkan dengan tulisan ini. Toh semua sekolah begitu kan? Dan mungkin apa yang dialami anak saya tidak dialami yang lainnya. Hanya saja, sepertinya kita semua sedang berada dalam arah yang salah. Perhaps.
Gimana nih komentarnya, pakar pendidikan?

3 Responses so far »

  1. 1

    *)Iin said,

    aku ndak tau bagaimana situasi pendidikan saat ini di ind har, namun rekaman memoriku dulu masih menyimpan cerita bahwa kita tidak terbiasa untuk ditolerir oleh pendidik untuk memiliki sesuatu yang berbeda dari apa yang telah ia tetapkan.

    belajar akhirnya hanya jadi sarana mencari nilai terbaik dan ranking, kadang kita lupakan bahwa anak–apalagi di awal masa2 sekolahnya– harus juga menikmati proses belajarnya.

    semoga saat ini sudah jauh berubah,amin.

  2. 2

    mharywa said,

    sharing dong In bagaimana keadaan di Jerman. Pls..

  3. 3

    *)Iin said,

    will tell u kapan kapan ya, dispesifikin aja har apa yang kudu dishare :) . kalo belum sempat sharing, doesnt mean aku ga mau nulis, tapi emang ternyata belum sempat untuk nulis eui, huznuzhon aja deh ya :) . hug buat ony ya..


Comment RSS · TrackBack URI

Say your words