
This image taken from here
by m hary w a
Pada kesempatan wawancara dengan orangtua calon siswa sebuah SMP di Depok tahun ajaran 2007/2008, seratus persen menyatakan bahwa mereka menilai keberhasilan seorang anak di masa depan adalah diukur dari akhlak atau karakternya, bukan angka-angka prestasi akademis. Akhlak yang baik seperti rajin beribadah, sopan, santun, disiplin, berani, mandiri, pantang menyerah adalah karakter yang dipandang lebih penting oleh orangtua siswa dibanding nilai di dalam raport. Tanpa mengesampingkan pentingnya kesuksesan dalam bidang akademis, banyak orang mulai tersadar bahwa clever is nothing without a good character. Menjadi pintar (clever) itu penting, tapi tidak ada artinya tanpa didampingi karakter yang baik. Semua sudah mafhum bahwa para pelaku kejahatan kerah putih adalah para bankir, anggota dewan, dan para eksekutif yang memiliki kecerdasan tinggi. Sehingga Islam tidak pernah menempatkan kepintaran, pangkat, jabatan, dan atribut dunia seseorang pada kedudukan yang tinggi. Jauh-jauh hari Nabi Saw sudah mengingatkan kita semua bahwa “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (Hadits Mutafaqun ‘Alaihi). Bahkan Allah Swt menganggap orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa, “Inna Akromakum ‘Indallahi Atqokum” (QS Al Hujarat:13), bukan orang yang paling tinggi IQ nya.
Karakter individu berkaitan erat dengan karakter kolektif di mana individu tersebut berkumpul. Karakter suatu bangsa akan dengan mudah dijumpai dalam individu-individunya. Bangsa Jepang yang terkenal dengan etos kerjanya, tergambar dalam cara berpikir dan bertindak manajer dan pekerjanya. Seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer bahkan pernah menyatakan bahwa, Indonesia sejatinya adalah sebuah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang berlimpah. Jika saat ini ternyata kita menjadi bangsa yang terpuruk, banyak hutang, dan kemiskinan di mana-mana, itu karena kita tidak memiliki pemimpin yang berkarakter.
Banyak orangtua yang mengeluh tentang karakter anaknya. “Pak, kenapa ya anak saya suka melawan orang tua?”, atau “Kenapa anak saya malas sekali belajar?”.
Apa yang ditampilkan seorang anak dalam bentuk karakter memang tidak terlepas dari kondisi psikologis sang anak yang sedang berkembang. Misalnya anak kelas 3 sering digambarkan sebagai remaja kecil yang sudah mulai banyak ‘memberontak’ dibanding saat mereka masih di kelas 1 atau 2. Atau anak kelas 8 yang mulai ‘rajin dandan’ seiring perkembangan hormon reproduksi mereka. Kondisi psikologis dan fisik mereka memiliki tabiat khasnya sendiri seperti digambarkan di atas. Namun sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan heterogen, selalu ada pengaruh ekstrinsik yang menstimulus kepribadian seorang anak. Anak akan mendapatkan pengaruh terutama dari orang-orang yang berada di sekitarnya seperti ayah, ibu, kakak, pembantu, guru di sekolah, teman, dan sebagainya. Mereka yang paling intens berinteraksi dengan anak dan memberikan pengaruh paling nyata inilah yang dalam istilah psikologi disebut dengan significant others.
Disadari bahwa anak tidak mungkin bisa didampingi selama 24 jam nonstop baik oleh guru maupun orangtua sekalipun. Sementara banyak waktu di mana anak mungkin saja mendapatkan pengaruh buruk tanpa pendampingan kita, baik di jalan, di kendaraan, maupun di tempat-tempat lain, tak terkecuali di rumah dan sekolah, di mana terdapat waktu mereka tanpa pengawasan. Oleh karenanya, solusi terbaik adalah dengan menciptakan benteng dan filter di dalam hati dan fikiran mereka. Bagaimana mereka bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Disiplin atas dasar kesadaran, bukan karena takut dimarahi.
Idealnya, arah pembinaan karakter di sekolah adalah membangun self-discipline dan kesadaran, bukan semata-mata indoktrinasi atau paksaan. Merekalah yang diajak untuk bertanggung jawab terhadap perilaku mereka sendiri, bukan guru atau orangtua. Dalam menangani pelanggaran disiplin, anak seyogyanya diajak untuk berdiskusi bagaimana pandangan mereka terhadap perilaku indispliner tersebut? Setelah timbul kesadaran, ditanyakan mengapa hal demikian bisa terjadi? Di sini guru atau orangtua dapat mendapatkan informasi dari anak apa yang menyebabkan dia melakukan pelanggaran. Kadangkala, alasannya sanat manusiawi dan masuk akal. Kitapun dituntut untuk menjadi pendengar sekaligus pengadil yang bijaksana. Terakhir ajak anak untuk memikirkan kira-kira apa yang dapat dilakukan agar kejadian serupa tidak berulang? Dari pendekatan ini akan timbul rasa trust dan respect dari anak terhadap kita.
Sejauh ini banyak sekolah telah membuat beberapa program untuk pembentukan karakter siswa yang dilandaskan pada penanaman nilai-nilai (values), misalnya Sekolah Darul Abidin di Depok memiliki values Disiplin, Amanah, Ramah, Berbagi, Integritas, Teamwork, Antusias, Kemandirian, Wawasan, dan Adil, yang dibuatkan akronim DARBI TAKWA. Values DARBI TAKWA ini diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah beserta program turunannya, mulai dari mentoring/Living Value Activities, Pin Darbi, dan sebagainya.
Namun sebelum melangkah lebih jauh dan mengharapkan hasilnya, ada beberapa aspek pembentukan karakter anak yang harus kita sepakati bersama yaitu pertama, aspek sinergitas antara sekolah dan rumah. Orangtua dalam hal ini harus terlibat aktif di dalam pembentukan karakter anak di rumah. Tanpa adanya kesinambungan program di rumah, maka pembentukan karakter akan kehilangan visinya. Pertanyaan di atas akan lebih mudah dijawab dan diselesaikan seandainya sekolah dan orangtua sama-sama sepakat dengan model pendekatan seperti apa yang digunakan. Jangan misalnya, saat anak kedapatan merokok, sekolah menggunakan pendekatan restitusi, tapi di rumah anak mendapat hukuman fisik, atau bahkan malah mendapat ‘dukungan’ karena orangtuanya juga perokok berat. Di lain waktu tanpa disengaja anak kadang masih mendapatkan verbal bullying (kata-kata yang mengandung ancaman, intimidasi, diskriminasi, labelling, dsb) baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah.
Sejauh kita memandang pembentukan karakter menjadi hal paling penting dalam proses pendidikan anak, maka sudah selayaknya kita melakukan hal-hal penting dan luar biasa pula. Misalnya menahan diri untuk tidak menyalakan TV saat anak sedang mengerjakan PR atau persiapan ulangan, bahkan ikut buka buku, belajar di samping mereka. Dalam hal ini aspek konsistensi dan keteladanan sangat diperlukan. Jika kita ingin anak kita rajin belajar, kita juga harus terlihat sebagai sosok yang rajin belajar. Demikian juga di sekolah, hampir mustahil mengharapkan anak-anak murid menjadi manusia yang tepat waktu jika mereka kerap menyaksikan guru-gurunya terlambat mengajar. Selanjutnya saat anak kita berhasil menunjukkan karakter yang baik seperti sholat tepat waktu tanpa disuruh dan taat pada orangtua, jangan segan-segan kita merayakannya dengan memberikan hadiah yang lebih besar dan mengejutkan dibanding saat mereka berulang tahun. Hal ini akan memberikan kesan yang kuat di dalam diri anak, bahwa perilaku yang mereka tunjukkan merupakan sesuatu yang sangat penting –bukan hal yang biasa-biasa saja- di mata orangtua mereka. Tanpa konsistensi dan keteladanan, anak akan banyak menjumpai hal yang paradoksal. Alih-alih membentuk karakter, anak malah belajar menjadi seorang hipokrit. Karakter yang baik hanya untuk anak saja, orang dewasa boleh melanggarnya. Na’udzubillahi min dzalik.
Kesimpulannya, membentuk karakter anak adalah tugas bersama, terutama orangtua dan sekolah. Jika hal ini disepakati, maka orangtua sah-sah saja menuntut sekolah jika tidak ada program pembentukan karakter yang melibatkan mereka, dan sekolah boleh memanggil orangtua jika terdapat tindakan kontra produktif terhadap anak di rumah (yang dilakukan oleh siapa saja). Tentu semuanya berada di dalam suasana saling terbuka dan menghargai, sehingga tidak terjadi saling tuding dan menyalahkan. Pertanyaannya sekarang adalah, siapkah kita menjadi tauladan dan mentor yang baik bagi anak-anak kita?
Wallahu A’lam Bis Showwab.
Glossary:
Restitusi (restitution) = pendekatan refleksi, dialogis, untuk membangun kesadaran dan self discipline pada anak.
Bullying = suatu bentuk penyalahgunaan tindakan dalam bentuk apapun terhadap seseorang atau kelompok tertentu yang berulang dan menimbulkan perasaan tertekan dan tidak menyenangkan.
Labelling = memberi cap negatif kepada anak, seperti sebutan anak yang ‘selalu membantah’, ‘tukang berbohong’, ‘bodoh’, ‘pemalas’, dsb.
