Robin Sharma, The Leader Who Had No Title (TLWHNT)
Chapter #4 To be a great leader, first become a great person
By m hary w a

This image taken from here
Dari 40 halaman percakapan antara Robin, Tommy, Jet, dkk, sebenarnya gagasan pada chapter #4 buku TLWHNT sangatlah sederhana, yaitu seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain, hal yang ditegaskan oleh Robin dalam redaksinya, ‘Lead yourself first. Only then you will get to a place as a person where you can lead other people’. Jelas ungkapan yang sangat common sense, tapi anda dan semua orang akan sepakat kalau dikatakan bahwa memimpin diri sendiri sangatlah tidak sederhana.
Robin melalui buku TLWHNT secara gamblang ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa leader pada akhirnya menjadi sosok yang paling diharapkan mampu memimpin perubahan dan membawa orang lain ke dalam sebuah kehidupan yang lebih baik. Menjadi lebih baik berarti merubah sesuatu dari keadaan sekarang menjadi lebih. To be great. Dan itu berjalan atas landasan bahwa kebaikan tidak dapat disampaikan dengan sesuatu yang buruk. Atau mencampurkan antara keduanya. Walaa talbisul haq bi bathil. Oleh karenanya kebaikan dan keunggulan hanya dapat disampaikan dari asal yang baik pula. Greatness on the outside begins within.
Setidaknya ada 5 (lima) aturan, rules, yang diketengahkan Robin untuk menjadi a great person sebelum kemudian secara alamiah menjadi a great leader:
1. See Clearly (melihat dengan jelas, al bashirah al waadhih)
2. Health is wealth (kesehatan adalah kesejahteraan)
3. Inspiration matters
4. Neglect not your family
5. Elevate your lifestyle
See Clearly
Seorang leader yang sejati, bahkan telah menjadi leader sebelum orang menyadarinya. Karena pada dasarnya orang yang fokus pada kebaikan akan meyakini kebaikan yang ia jalankan sebelum orang lain meyakininya. Dalam istilah Berry Gordy Jr, dalam buku Robin, ‘A winner is a winner before he has become a winner’. Sebuah ungkapan yang rumit namun sebenarnya sederhana. Jika anda orang yang baik dan unggul, anda akan tetap demikian walaupun semua orang mengingkarinya. Kira-kira begitu.
Dalam ajaran Islam, ini dikenal sebagai shaksiyah islamiyah, di mana seorang muslim seharusnya menjadi lokomotif perbaikan pada dirinya sendiri sebelum ia dapat, dengan kebaikan dirinya, mampu memperbaiki orang-orang di sekelilingnya. Kalau dilihat dari kalimat ‘See clearly’, melihat dengan jelas, implikasinya adalah, seorang yang great kepribadiannya, akan mencoba untuk selalu berfikir, berkata, dan bertindak dalam kerangka dan tujuan kebaikan. Lebih jauh lagi, hal-hal tadi juga harus dibungkus dalam kemasan yang baik. Oleh karenanya, ia selalu akan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sangat cermat dan mencoba untuk melihat semua hal dengan sejelas-jelasnya. Hal ini penting karena setiap keputusan dan tindakan tidak hanya berdampak pada dirinya saja, namun juga orang lain di sekelilingnya.
Namun demikian, manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan, tidak terkecuali seorang great leader. Tapi, kita dapat belajar bagaimana mereka, great leader, menghadapi kesalahan dan keterpurukan. Rumusnya ternyata tetap, jika kita fokus kepada kebaikan dan keunggulan, maka kita harus tetap memikirkan dan melakukan yang baik-baik saja. Kita harus tetap melihat ke depan, melangkah, dan meninggalkan kesalahan di belakang. ‘You can’t craft a superb future by remaining stuck in your past’. Kita tidak dapat merangkai masa depan yang baik jika kita terhenti di masa lalu’. Semua orang besar pada kenyataannya merangkai kesuksesan mereka di atas kesulitan dan penderitaan. Dan tentu kita masih dapat melihat bahwa sejarah kebangkitan peradaban orang-orang barat (renaissance) dibangun di atas puing-puing belenggu kebodohan, walaupun sangat pahit dirasakan mengingat puing-puing tersebut adalah institusi gereja.
Al-Qur’an juga telah mengisyaratkan bahwa kemenangan dan pertolongan Allah, akan datang di saat hampir semua orang yang berjuang merasa kelelahan dan putus asa. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapan datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah:214).
Health is Wealth
Mengapa topik kesehatan menjadi salah satu issu dan tolok ukur bagi seorang leader? Mungkin sebagian besar kita langsung tersingkir dari daftar calon great leaders, begitu baru masuk ke poin dua ini. Sangat jarang kita mengaitkan kesehatan dengan pribadi yang baik. Banyak para pemimpin kita yang mati karena masalah kesehatan. Bahkan banyak di anataranya yang mati muda, atau terlalu muda untuk mati. Bagi kita, mati bukanlah urusan yang dapat dinegosiasikan, tetapi rumus kita tetap berlaku, pribadi yang unggul tidak akan melupakan prajurit pertamanya yang ia pimpin, yaitu tubuhnya sendiri. Tubuh yang terdiri dari jasad dan ruh semuanya harus dipimpin juga menuju kebaikan dengan melakukan hal-hal yang baik pula. Pemimpin besar seperti Nabi Muhammad, tidak pernah mengabaikan semua hal kecuali keburukan. Dengan tubuh yang sakit, tidak mungkin seorang Muhammad mampu mengemban amanh kenabian dalam usianya yang 40 tahun. Atau tidak mungkin pula ia menjadi ‘kaisar’ dari 3 benua yang berbeda. Hampir pasti tidak mungkin ia dapat memimpin lebih dari 50 peperangan di sepanjang 20 tahun akhir hidupnya. Semuanya tidak mungkin, hanya kecuali jika ia memiliki kesehatan yang prima. Dan kita tahu bahwa sepanjang hidupnya, ia hanya sakit 1 kali saja. Sakit yang membawa kematiannya.
Kesehatan seorang pemimpin menjadi sebuah faktor resiko yang besar bagi siapapun, termasuk dirinya. Robin mengingatkan, ‘If you lose your health, you lose everything’. Itu berarti jika seorang pemimpin tidak sehat atau sakit, berarti peluang terjadinya kebaikan akan banyak pula hilang. Allah sudah memilihkan kita sejarah yang terbaik tentang pemimpin. Para nabi dan rasul adalah pribadi-pribadi yang sempurna baik bentuk fisik dan kesehatannya. Mereka adalah makhluk yang terpilih di antaranya adalah faktor kebugaran tubuh. Seorang Musa bahkan dengan kebugarannya mampu membunuh seseorang dengan pukulannya. Dan Muhammad Saw, adalah seorang pelari yang cepat, penunggang kuda yang tangkas, dan atletis. Tak heran jika seorang pegulat handal sekalipun dapat dikalahkannya. Jarang sekali kita menyadari bahwa kesehatan telah menjadi concern Allah dalam hal yang sangat penting, yaitu kepemimpinan.
Pemimpin sejati akan menjadi pemimpin sebelum ia menjadi pemimpin. Ungkapan yang ‘rumit’ ini dapat dijadikan alat untuk mengukur bagaimana seorang pemimpin dalam menghadapi keadaan sakit yang tidak dapat dihindari. Kita memiliki contoh seorang panglima kebanggaan yaitu Jenderal Sudirman. Sang jenderal sebagai pemimpin besar yang murni, tidak menjadikan sakit sebagai variabel bagi produktifitas kebaikannya. Bahkan dalam keadaan yang paling lemah sekalipun, ia tidak mau menyerah dan tetap memimpin perang gerilya walau dengan cara ditandu. Badan boleh sakit, namun pikiran dan jiwanya tetap mampu memimpin dirinya agar tetap fokus pada kebaikan. Menurut Robin, ‘Your heath will never be better than your self image’. Jenderal Sudirman memang sakit, tapi pikirannya mampu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sakit.
Mujahid dan mujaddid Hasan Al Banna merumuskan 40 kewajiban muslim bagi aktivis dakwah. Kualifikasi aktivis dakwah menurut beliau adalah pribadi-pribadi yang baik, taat ibadah, sehat, bugar, cerdas, tangguh, dan memiliki leadership. Beliau memasukkan unsur kesehatan ke dalam 40 kewajiban muslim yang dirangkumnya tersebut. Beliau mengatakan, “Hendaklah engkau bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Disamping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.” Lalu pesannya lagi, “Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok”.
Inspiration Matter
Inspirasi ada di mana-mana dan semuanya berarti. Pribadi yang baik akan menyerap kebaikan dari siapa saja dan di mana saja. Leader sudah seharusnya sabar mendengarkan kemarahan anak buahnya. Karena di sana tersimpan kejujuran dan kebenaran. Umar bin Khattab dituding di muka umum oleh seorang wanita yang marah. Namun Umar sebagai seorang leader sejati, mampu melihat esensi kebenaran secara jelas walau berada di tengah api kemarahan. Sehingga wanita marah tersebut justru menjadi sumber inspirasi bagi sang leader untuk melakukan hal yang baik-baik saja. Sikap ini memerlukan ketajaman mata hati (see clearly) dan kesehatan jiwa (health).
Atau kisah seorang pemimpin yang shaleh, Ali bin Husen, yang sekuat tenaga menahan amarahnya saat budak wanitanya menjatuhkan kendi hingga pecah berantakan saat ia menuangkannya pada sang majikan untuk berwudhu. Budak wanita itu berkata, “Allah SWT telah berfirman:
والكاظمين الغيظ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya”. (Q.S Al Imran: 134)
Ali bin Husen menjawab : “Aku telah menahan amarah itu”.
Kemudian budak itu berkata pula: Allah SWT berfirman:
والعافين عن الناس
“dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) manusia” (Q.S Al Imran; 134)
Dijawab oleh Ali bin Husen: “Aku telah memaafkanmu” Akhirnya budak itu berkata lagi:
Allah juga berfirman:
والله يحب المحسنين
“dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.S Ali Imran: 134)
Ali bin Husen menjawab: “Pergilah kamu karena aku telah memerdekakanmu”…
Seorang budak yang berbuat kesalahan konyol sekalipun, mampu menjadi sumber inspirasi bagi seorang leader untuk melakukan kebaikan yang terbaik.
Bagi seorang leader, semuanya adalah inspirasi untuk berbuat keabikan dan keunggulan. Robin mengatakan, ‘A day without feeling inspired is a day that you have not fully lived. You need to refill your well inspiration every day because the challenges of life will drain it every day’… kita semua, saya, anda, presiden, Isaac Newton, Steve Jobs, diberikan pengalaman dan kesempatan yang sama. Namun hanya sedikit di antara kita yang terinspirasi. Banyak sekali orang pernah melihat apel jatuh dari pohon. Tapi hanya Newton yang terinspirasi menjadi rumus fisika.
Neglect not Your Family
Pemimpin yang baik, memiliki jiwa yang baik. Jika itu telah terwujud, maka kemenangan akan menjadi hal nonsense untuk dibicarakan terus menerus. Itu hanyalah sebuah keniscayaan dari kebaikan yang dilakukan dengan baik. Fokus terhadap kebaikan akan mengabaikan kemenangan dan sanjungan sebagai ikon individual. Semuanya adalah kepentingan tim. pemimpin akan membiarkan anak buahnya menikmati kemenagan dan kesuksesan sebagai bagian dari kesuksesan diri mereka. Karena menurut Robin, apalah artinya kesuksesan jika semuanya hanya dirasakan oleh diri sendiri?, ‘what is the point in becoming super successful but ending up all alone? A huge amount of joy can be found in cultivating beautiful relationship with your family & friends.’. Sebaliknya kegembiraan dari orang banyak dapat diperoleh dengan membina hubungan pribadi yang kuat terhadap keluarga dan teman (orang-orang di sekeliling kita).
Pemimpin besar, hampir selalu merupakan pribadi yang humanis, walaupun akan berubah menjadi seorang yang bengis di hadapan lawan-lawannya. Bahkan dalam contoh yang tidak ideal, seorang pemimpin mafia, tetap dapat membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak kecilnya dan berusaha untuk melindungi keluarganya dari bahaya dan ancaman sebesar apapun.
Elevate Your Lifestyle
Pribadi yang baik memiliki kehidupan yang baik, termasuk gaya hidupnya. Lifestylenya. Lifestyle adalah cara seseorang dalam menghabiskan waktu dan uangnya. Oleh karenanya, pribadi yang baik, para great leaders, juga seharusnya memiliki cara yang terbaik dalam menghabiskan waktu dan uangnya. Jika kita kembali lagi pada rumus awal, maka great person dan leader harus mampu memastikan bahwa waktu yang berlalu dan uang yang habis terpakai akan menghasilkan produk atau nilai-nilai kebaikan.
Para imam dan ulama terdahulu, saat kelemahan jiwa melanda mereka, maka mereka akan mengurung diri di kamar. Bukan untuk tidur dan terlelap, tetapi menulis buku! Sehingga tak jarang jika saat sakit mereka atau saat mereka dipenjara sekalipun, menjadi saat-saat untuk menjadi lebih produktif dalam hal tertentu. Tak heran jika banyak karya fenomenal para ulama lahir dari balik jeruji dan saat mereka merasa lemah (futhur). Mereka, para great persons and leaders, senantiasa memiliki cara untuk memberikan sesuatu, kontribusi kebaikan kepada orang lain. ‘contribution is the ultimate purpose of work & life’.
Dan pada akhirnya Robin Sarma menutup chapther ini dengan ungkapan bahwa hidup bermanfaat adalah warisan terbesar dan mulia dari manusia. “ the great and glorious legacy of human being is to live with a purpose’. Hal ini sejalan dengan perkataan Nabi Saw, “Khairukum anfauhum linnas”, Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (Al Hadits)
Khatimah
Awalnya saya merasa kasihan dengan Robin Sarma karena mengetahui bahwa ia harus bersusah payah menulis buku beratus halaman, hanya mau mengatakan hal yang sederhana: ‘Lead yourself first. Only then you will get to a place as a person where you can lead other people’. Tapi benar apa kata teman saya saat MU dibantai Manci 1-6 kemarin, bahwa tidak penting kekalahannya yang 1-6, tetapi yang kita sangat ingin tahu adalah bagaimana sang juara sejati seperti MU menghadapi dan menangani kekalahan tersebut. Jadi, tidak penting berapa halaman buku TLWHNT ditulis oleh Robin, atau malah tidak banyak orang yang membaca, tapi kenyataannya, orang awam seperti saya saja, cukup bisa merasa tergugah bukan dengan judul bukunya yang terkenal, tapi cukup dengan membaca head title chapter ke #4 saja! Dan selanjutnya saya malah kagum bahwa masalah ‘sederhana’ menyimpan banyak sekali inspirasi, tentu bagi seorang great person, apalagi great leader.

Evi said,
October 25, 2011 @ 9:32 am
Artikel menarik. Bagaimana mungkin kita bisa memimpin orang lain sementara memimpin diri sendiri gak becus. Siapa yang akan mengikuti pemimpin yg tak bisa mengendalikan dirinya sendiri…Yah, setiap orang harus belajar tentang ini bahwa menjadi pemimpin untuk diri sendiri bukanlah usaha mudah..tapi bukan tak mungkin
mharywa said,
October 26, 2011 @ 2:18 am
Terima kasih komentarnya mbak Evi. Saya termasuk yg tergugah dengan buku Robin tsb, karena masih sangat banyak kekurangan. tapi benar kata mbak Evi, walau tidak mudah,… tapi bukan tidak mungkin. selamat berkarya.
Iin said,
October 26, 2011 @ 5:26 am
thanks for sharing har
..bener banget..khoirunnaas anfa’uhum linnaas..komplit lagi mungkin kalau bisa dipenuhi dua kebaikan yang lain, khoirukum man ta’allamal Qur’aan wa ‘Allamahu dan man yuridillaahu khoiran yufaqqihhu fid diin
. semoga kita bisa meniti jalan ke sana, amiin.
mharywa said,
October 27, 2011 @ 6:33 am
tengkyu comment nya In… makasih sharback (sharing back) nya, amin….