Ainun berjalan tergesa-gesa. Kakinya yang dibungkus kaus kaki putih dan sepatu kets warna hitam melangkah lebar-lebar. Bunyi bel pulang sekolah masih dapat terdengar di telinga Ainun, tapi ia sudah berada jauh dari sekolah. Beberapa temannya seperti Indah, Masri, dan Leni yang biasa pulang bersama, bingung mencari di mana Ainun.
Hari itu hari sabtu, yang berarti esok harinya anak-anak dapat bebas dari pelajaran sekolah. Semua anak sekolah dasar Darul Abidin siang itu tampak bergembira. Banyak di antara mereka yang sengaja tidak lekas pulang ke rumah. Ada yang main kejar-kejaran, ada yang berkumpul di taman sambil saling bercerita lucu sampai terdengar tawa mereka yang nyaring, ada pula yang sekadar duduk-duduk berjejer di teras kelas memandangi teman-teman mereka yang sedang bermain di lapangan. Sesekali mereka ikut berteriak atau bertepuk tangan ketika melihat seorang teman mereka yang sedang main tak lari jongkok hampir terjatuh atau ketika seorang anak yang sedang bermain lompat karet berhasil melompati karet yang cukup tinggi. Sementara itu di tengah keramaian dan hilir mudik anak-anak, Indah, Masri, dan Lani sudah hampir putus asa mencari Ainun. Tak seperti biasanya Ainun tidak tampak sepulang sekolah. Biasanya tidak sampai lima menit dari bel pulang, mereka sudah dapat melihat wajah bulatnya yang dibalut jilbab mungil berenda lengkap dengan cengiran dan cengengesannya yang khas, padahal mereka semua yakin kalau Ainun hari ini masuk sekolah. Merekapun masih melihat Ainun masuk ke kelas 3d pada jam pelajaran terakhir. Semua ruangan sudah mereka periksa satu persatu mulai dari lantai atas sampai bawah, termasuk kamar mandi dan WC, takut-takut kalau Ainun terkunci di sana. Tapi hasilnya nihil. Mereka tetap tidak dapat menemukan Ainun. Ainun menghilang!
