Archive for cerpen

catatan seorang murid sd

Ainun berjalan tergesa-gesa. Kakinya yang dibungkus kaus kaki putih dan sepatu kets warna hitam melangkah lebar-lebar. Bunyi bel pulang sekolah masih dapat terdengar di telinga Ainun, tapi ia sudah berada jauh dari sekolah. Beberapa temannya seperti Indah, Masri, dan Leni yang biasa pulang bersama, bingung mencari di mana Ainun.

Hari itu hari sabtu, yang berarti esok harinya anak-anak dapat bebas dari pelajaran sekolah. Semua anak sekolah dasar Darul Abidin siang itu tampak bergembira. Banyak di antara mereka yang sengaja tidak lekas pulang ke rumah. Ada yang main kejar-kejaran, ada yang berkumpul di taman sambil saling bercerita lucu sampai terdengar tawa mereka yang nyaring, ada pula yang sekadar duduk-duduk berjejer di teras kelas memandangi teman-teman mereka yang sedang bermain di lapangan. Sesekali mereka ikut berteriak atau bertepuk tangan ketika melihat seorang teman mereka yang sedang main tak lari jongkok hampir terjatuh atau ketika seorang anak yang sedang bermain lompat karet berhasil melompati karet yang cukup tinggi. Sementara itu di tengah keramaian dan hilir mudik anak-anak, Indah, Masri, dan Lani sudah hampir putus asa mencari Ainun. Tak seperti biasanya Ainun tidak tampak sepulang sekolah. Biasanya tidak sampai lima menit dari bel pulang, mereka sudah dapat melihat wajah bulatnya yang dibalut jilbab mungil berenda lengkap dengan cengiran dan cengengesannya yang khas, padahal mereka semua yakin kalau Ainun hari ini masuk sekolah. Merekapun masih melihat Ainun masuk ke kelas 3d pada jam pelajaran terakhir. Semua ruangan sudah mereka periksa satu persatu mulai dari lantai atas sampai bawah, termasuk kamar mandi dan WC, takut-takut kalau Ainun terkunci di sana. Tapi hasilnya nihil. Mereka tetap tidak dapat menemukan Ainun. Ainun menghilang!

Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Satu hari bersama kelas 3

Pagi ini memang cerah secerah perasaanku. Tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal setelah peristiwa yang terjadi kemarin. Rasa rasanya baru sekali itu aku merasa begitu dongkol sama yang namanya orang tua murid. Tapi kalau mengingat-ingat Adinda di rumah tentu saja hati ini tidak sempat merasa bosan apalagi kesal, tetapi ya itu tadi selalu saja ada pikiran-pikiran yang mengganggu. Yang membuatku tenang karena aku ingat sudah membaca Bismillahi Laa Yadhurru…… ajaran Nabi Muhammad. Lho iya, kata pak Basri, guru PAI, do’a ini membuat kita dijamin tidak celaka dari pagi sampai petang. Cui! Hebat meck.
Kulihat di samping, anak-anak sudah berbaris rapi menunggu aba-aba dari ketua kelas giliran. Hari ini giliran si Nisa. Gigi kelinci sudah langsung menari-nari berseliweran di antara barisan anak-anak. Kalau menurut buku hasil Raker, tentu saja sikapku yang hanya bersender memandang dari kejauhan dipersalahkan, tapi kalau menurut hasil kata hatiku tentu juga ini yang paling enak dikerjakan.
“Jack!”
Anak gendut itu lagi yang terlihat tidak tertib. Kupanggil dia.
“Hei bisa tertib tidak ?”
Kaget setengah mati! Tidak menyangka kalau ada aku di belakang. Bukannya jawaban, dia hanya goyang-goyang badan sambil memamerkan dua gigi kelincinya yang lebih besar dari punya si Nisa. Matanya agak sipit jadi kalau mau nangis agak kurang kentara. Sebetulnya anak ini kalau sudah besar bakalan ganteng dan cakep, tinggi besar. Jago renang, lagi. Eh iya memang di kelas ada dua anak yang punya gigi kelinci. Tapi yang terakir ini terlihat agak kurang terawat. Maklumlah anak laki-laki.
“Diam kamu”, hardikku dengan gaya sok digalak-galakkin. Yang satu ini memang penakut. Walau kesannya sebaliknya kalau mendengar cerita-cerita bapaknya. Aku kira lima hari seminggu dan 7 jam sehari cukup untuk membuat diriku bisa disejajarkan dengan bapaknya dalam membuat kesimpulan. Tul nggak? Cengeng dan penakut. Lempar batu sembunyi tangan. Tidak jentel. Usil. Nggak satria. Pendendam. Lamban. Kurang cemerlang. Suka cari kambing hitam. Aduh jahat bener sih kesimpulannya tapi ya memangnya begitu habis mau diapain lagi ? yang penting aku tidak membenci dia. Malah sebetulnya cukup hobi ngajak si Jack ngobrol. Dia itu pinter ngebodor. Aku paling bahagia kalau dia dapat ulangan matematika bagus. Jempol kananku bisa jadi saksi. Dia selalu aku pamerkan di depan muka Jack kalau ulangannya bagus. Read the rest of this entry »

Leave a comment »