<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>the last minute</title>
	<atom:link href="http://mharywa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mharywa.wordpress.com</link>
	<description>love is the happines to give</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 05:55:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mharywa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>the last minute</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mharywa.wordpress.com/osd.xml" title="the last minute" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mharywa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengapa sih pria &#8216;cenderung&#8217; selingkuh?</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/26/mengapa-sih-pria-cenderung-selingkuh/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/26/mengapa-sih-pria-cenderung-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel lepas]]></category>
		<category><![CDATA[essay]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[cinta laura]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[luna maya]]></category>
		<category><![CDATA[mata]]></category>
		<category><![CDATA[materi]]></category>
		<category><![CDATA[mpok nori]]></category>
		<category><![CDATA[organ]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[tembok china]]></category>
		<category><![CDATA[tora sudiro]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[this image was taken from here by m hary w a Judulnya saya buat dengan berhati-hati. Penggunaan kata &#8216;cenderung&#8217; dengan tanda kutip sebagai usaha saya secara sadar untuk tidak mengeneralisir bahwa semua pria pasti selingkuh, atau cenderung (tanpa tanda kutip) selingkuh. Pasti ada pria yang mengaku tidak punya niatan sebersitpun untuk selingkuh. ok? Nah, kecenderungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=135&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/broken.jpg"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/broken.jpg?w=300&#038;h=219" alt="" title="cheat" width="300" height="219" class="alignnone size-medium wp-image-136" /></a><br />
this image was taken from <a href="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/broken.jpg" title="broken" target="_blank">here</a></p>
<p><em><em>by m hary w a</em></em></p>
<p>Judulnya saya buat dengan berhati-hati. Penggunaan kata &#8216;cenderung&#8217; dengan tanda kutip sebagai usaha saya secara sadar untuk tidak mengeneralisir bahwa semua pria pasti selingkuh, atau cenderung (tanpa tanda kutip) selingkuh. Pasti ada pria yang mengaku tidak punya niatan sebersitpun untuk selingkuh. ok?</p>
<p>Nah, kecenderungan selingkuh pada pria adalah berasal dari otaknya. Otak sebagai organ yang hebat, salah satu tugasnya adalah menerjemahkan semua informasi yang masuk, termasuk bermacam sensasi yang dirasakan panca indra terutama pantulan cahaya yang masuk melalui retina setelah membentur sebuah kumpulan atom-atom pembentuk materi. Maka jadilah ketika sinar terang (karena lampu atau matahari) otak memproses beragam cahaya yang masuk dan jadilah informasi yang diyakini kebenarannya oleh seorang manusia, dalam hal ini pria. Ada cahaya yang panjang gelombangnya 700nm masuk ke mata diterjemahkan menjadi &#8216;warna merah tua&#8217;, ada juga yang hanya 400nm dan otak melaporkan sebagai &#8216;warna ungu&#8217;. Semua pantulan cahaya diterjemahkan termasuk pantulan foton-foton cahaya dari antar muka fesbuk ini sehingga you bisa membaca tulisan aneh ini. Demikian seterusnya, sampai dengan mata pria meneruskan pantulan cahaya yang menubruk atom-atom pembentuk tubuh luna maya. Sehingga otak memberi banyak penjelasan kepada seorang pria, bahwa yang ini namanya luna maya, yang ini mpok nori, yang ini cinta laura, dan kalo yang itu namanya tora.<span id="more-135"></span></p>
<p>Demikianlah. Jadi yang bertanggung jawab memberi pemahaman bahwa luna maya cantik adalah otak, bukan mata. Mata hanya meneruskan pantulan cahaya yang tertangkap. Hanya saja, bagi pria yang dari kecil matanya bisa menangkap cahaya, alias melihat, otak akan sangat bergantung pada mata dalam menerjemahkan suatu informasi. Sebaliknya kalau seorang pria dari lahir tidak bisa melihat, maka baginya, luna maya tak berarti apa-apa, walaupun diceritain sampe berbusa bahwa luna maya cantik juga gak bakal ngerti. Dia baru bisa mengira-ngira dengan cara menyentuh. Pun saat menyentuhnya, luna maya tak lebih dari seonggok materi yang memiliki bentuk. Sama persis dengan mpok nori atau kuda.</p>
<p>Oke. sekarang saya tanya, mana yang lebih penting bagi pria dalam menerjemahkan suatu bentuk, matanya atau otaknya? memang otaklah yang menerjemahkan. tapi matalah pihak yang paling urgen bagi pria untuk dapat menikmati pantulan-pantulan cahaya.</p>
<p>Pantulan-pantulan cahaya telah menyebabkan pria bergumam, &#8220;subhanallah, indah sekali&#8230;&#8221; atau &#8220;masya Allah, cantik benerrr..&#8221; atau &#8220;ya ampuuun&#8230; nggak serasi banget sih&#8221;, dsb.</p>
<p>Sampai di sini paham ya?</p>
<p>Selanjutnya, setiap hari mata terus menerima pantulan-pantulan cahaya yang tiada henti, dan otakpun tidak pernah berhenti untuk memberi penilaian atas setiap informasi yang masuk. karena ruang lingkup aktifitas pria cukup luas, misalnya perjalanan dari kota menuju tempat kerja, dari tempat kerja ke lapangan, lalu ke super market, ke restoran, dan lain-lain. selama perjalanan, mata terus menerima pantulan yang jarang sekali sama. hampir selalu baru. maksudnya jarang sekali pria menerima pantulan cahaya dari manusia lain yang 100% sama dengan sehari sebelumnya dalam perjalanan baik di atas kereta, kendaraan umum, ojeg, dsb. dan karenanya otakpun selalu memberikan kesimpulan-kesimpulan, oh yang ini baru nih, oh yang ini lebih bagus dari yang kemarin, oh yang ini tidak sebagus kemarin tapi bajunya ok banget, gaya rambutnya enak dilihat yah, wah sepatu seperti itu pas banget ya dipakai sama dia, dsb.</p>
<p>Sementara itu, di rumah, mata pria mendapatkan pantulan cahaya yang relatif sering sekali sama dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun, bukan hanya dari bentuk rumah dan tata letak di dalam kamarnya, yang terpenting adalah dari penampilan pasangan hidupnya, istrinya sendiri! maka mulailah otak pria merecall hasil terjemahan otak yang ada untuk membandingkan dengan yang ia miliki. dan biasanya timbul perasaan bosan, jenuh. hal ini diperparah bukan hanya dari pandangan mata yang tidak berubah, tapi juga dari sikap, tingkah laku, gaya bicara, dan sebagainya. selanjutnya pria mulai berkata, wanita di bis tadi jauh lebih menarik, wanita di jalan tadi lebih cantik, dsb.</p>
<p>Nah, sampai di sini, imanlah yang berperan. Jika imannya sekokoh tembok China dan punya otak kreatif yang optimis, maka ia akan memerintahkan otak untuk membuat rencana agar anggota tubuh melakukan negosiasi dan saran-saran kepada Istrinya untuk melakukan perubahan-perubahan dari penampakan existing menjadi seperti yang ada di dalam data base otak. Mulai dari model potongan rambut, model baju, sampai kepada usaha-usaha memperindah casing seperti kulit muka dan badan, kuku, dan shape. Ingat, pria harus mau merogoh kocek agak dalam untuk plan A ini. Nah bagaimana kalau bokek? plan B dijalankan: pria harus rela turun tangan sendiri melakukan perawatan ala salon dengan ramuan-ramuan yang ada di dapur (kunyit, kencur, beras, garam, kopi, gula, air panas, de el el). Lalu juga memodifikasi baju-baju istri jadi lebih sensual sesuai model yang direkomendasikan otak. Jangan lupa tanya selalu ke otak.</p>
<p>Sementara itu, kalau imannya tipis setipis benang layangan, yang terjadi dua kemungkinan: pertama kalau sang pria kantongnya tebal, hampir pasti dia selingkuh atau paling bagus minta izin kawin lagi (lihatlah istri barunya, pasti sesuai dan pas benar dengan rekomendasi otaknya. ya iyalah..), kedua, kalau sang pria kantongnya setipis imannya, dia jadi sering marah-marah di rumah tanpa sebab, karena otaknya crash dengan keadaan alias error. Satu-satunya jalan agar bisa bener lagi harus diformat ulang dengan low level format.</p>
<p>Kesimpulannya, mengulang pertanyaan &#8216;Mengapa pria cenderung selingkuh?&#8217;, kira-kira jawabnnya seperti ini:</p>
<p>pria cenderung selingkuh karena,</p>
<p>1. daya jelajah pria rata-rata lebih luas dari wanita. oleh karenanya, otak pria terlalu banyak terpapar dengan pemandangan indah yang sangat variatif dan dinamis.</p>
<p>2. pria pada dasarnya pembosan. menginginkan hal-hal yang baru dan mengejutkan dari pasangannya sesering mungkin.</p>
<p>3. pria sulit mengkomunikasikan hal yang satu ini (masalah perubahan bentuk dan variasi penampakan istri). mungkin karena pria meyakini faham &#8216;lebih baik bertindak daripada bicara&#8217; (sama dgn faham yang dipakai copet). arti &#8216;bertindak&#8217; bisa jadi kasar kepada istri yang tidak kunjung berubah bentuk selama 120 kali bulan purnama, atau mulai kabur-kaburan dari rumah karena punya selingkuhan.</p>
<p>4. iman pria sering KO melawan hasutan otak dan pikiran.</p>
<p>5. istri kurang bisa memahami isi serta cara kerja otak dan pikiran suami.</p>
<p>Anda mungkin mengira tulisan ini lebih banyak memojokkan kaum wanita. Sebenarnya tidak begitu, apalagi tidak semua wanita atau pria seperti ilustrasi di atas, dan kalau dibaca dengan seksama, justru kaum pria yang lebih banyak dituntut dan harus lebih tau diri. Jika ingin pasangannya sesuai dengan ekspektasi otaknya, ya berikanlah &#8216;modal&#8217; bagi pasangan. Berikan dana khusus untuk pasangan agar bisa rajin-rajin ke salon sekedar untuk luluran, atau pergi ke butik. Jangan memberikan uang bulanan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Nah, kesimpulannya, bagi pria yang berkantong tebal, lebih baik memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan istrinya agar sang pasangan juga tau apa sih keinginan si suami. Lebih fair kan? Trus, bagi pria berkantong tipis, malulah pada diri anda sendiri jika masih punya niatan selingkuh. Wong satu istri aja gak keurus kok. Uedan tenan!</p>
<p>Tambahan, dari poin ke 3 di atas, kita bisa mengaitkannya dengan fenomena di lapangan bahwa pria yang selingkuh biasanya yang punya sikap &#8216;diem-diem&#8217; saja alias pendiem dan agak-agak introvert. Pria yang berkoar-koar ingin selingkuh, justru biasanya awet dengan satu istri karena bakat koar-koarnya bisa mengalahkan egonya agar mau berdiskusi dengan pasangan. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=135&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/26/mengapa-sih-pria-cenderung-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/broken.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cheat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To be a Great Leader, First Become a Great Person</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/25/to-be-a-great-leader-first-become-a-great-person/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/25/to-be-a-great-leader-first-become-a-great-person/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 06:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel lepas]]></category>
		<category><![CDATA[essay]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[great leader]]></category>
		<category><![CDATA[great person]]></category>
		<category><![CDATA[leader]]></category>
		<category><![CDATA[leadership]]></category>
		<category><![CDATA[management]]></category>
		<category><![CDATA[robin sharma]]></category>
		<category><![CDATA[the leader who had no title]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Robin Sharma, The Leader Who Had No Title (TLWHNT) Chapter #4 To be a great leader, first become a great person By m hary w a This image taken from here Dari 40 halaman percakapan antara Robin, Tommy, Jet, dkk, sebenarnya gagasan pada chapter #4 buku TLWHNT sangatlah sederhana, yaitu seseorang harus mampu memimpin dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=128&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Robin Sharma, The Leader Who Had No Title (TLWHNT)<br />
Chapter #4 To be a great leader, first become a great person</strong></p>
<p><em>By m hary w a</em></p>
<p><a href="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/94481.jpg"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/94481.jpg?w=196&#038;h=300" alt="" title="94481" width="196" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-130" /></a><br />
This image taken from <a href="https://www.popular.com.sg/images/product/book/94481.jpg" title="robin sharma, the leader who had no title" target="_blank">here</a> </p>
<p>Dari 40 halaman percakapan antara Robin, Tommy, Jet, dkk, sebenarnya gagasan pada chapter #4 buku TLWHNT sangatlah sederhana, yaitu seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain, hal yang ditegaskan oleh Robin dalam redaksinya, ‘Lead yourself first. Only then you will get to a place as a person where you can lead other people’. Jelas ungkapan yang sangat common sense, tapi anda dan semua orang akan sepakat kalau dikatakan bahwa memimpin diri sendiri sangatlah tidak sederhana.</p>
<p>Robin melalui buku TLWHNT secara gamblang ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa leader pada akhirnya menjadi sosok yang paling diharapkan mampu memimpin perubahan dan membawa orang lain ke dalam sebuah kehidupan yang lebih baik. Menjadi lebih baik berarti merubah sesuatu dari keadaan sekarang menjadi lebih. To be great. Dan itu berjalan atas landasan bahwa kebaikan tidak dapat disampaikan dengan sesuatu yang buruk. Atau mencampurkan antara keduanya. Walaa talbisul haq bi bathil. Oleh karenanya kebaikan dan keunggulan hanya dapat disampaikan dari asal yang baik pula. Greatness on the outside begins within. <span id="more-128"></span></p>
<p>Setidaknya ada 5 (lima) aturan, rules, yang diketengahkan Robin untuk menjadi a great person sebelum kemudian secara alamiah menjadi a great leader:<br />
1.	See Clearly (melihat dengan jelas, al bashirah al waadhih)<br />
2.	Health is wealth (kesehatan adalah kesejahteraan)<br />
3.	Inspiration matters<br />
4.	Neglect not your family<br />
5.	Elevate your lifestyle</p>
<p><strong>See Clearly</strong><br />
Seorang leader yang sejati, bahkan telah menjadi leader sebelum orang menyadarinya. Karena pada dasarnya orang yang fokus pada kebaikan akan meyakini kebaikan yang ia jalankan sebelum orang lain meyakininya. Dalam istilah Berry Gordy Jr, dalam buku Robin, ‘A winner is a winner before he has become a winner’. Sebuah ungkapan yang rumit namun sebenarnya sederhana. Jika anda orang yang baik dan unggul, anda akan tetap demikian walaupun semua orang mengingkarinya. Kira-kira begitu. </p>
<p>Dalam ajaran Islam, ini dikenal sebagai shaksiyah islamiyah, di mana seorang muslim seharusnya menjadi lokomotif perbaikan pada dirinya sendiri sebelum ia dapat, dengan kebaikan dirinya, mampu memperbaiki orang-orang di sekelilingnya. Kalau dilihat dari kalimat ‘See clearly’, melihat dengan jelas, implikasinya adalah, seorang yang great kepribadiannya, akan mencoba untuk selalu berfikir, berkata, dan bertindak dalam kerangka dan tujuan kebaikan. Lebih jauh lagi, hal-hal tadi juga harus dibungkus dalam kemasan yang baik. Oleh karenanya, ia selalu akan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sangat cermat dan mencoba untuk melihat semua hal dengan sejelas-jelasnya. Hal ini penting karena setiap keputusan dan tindakan tidak hanya berdampak pada dirinya saja, namun juga orang lain di sekelilingnya. </p>
<p>Namun demikian, manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan, tidak terkecuali seorang great leader. Tapi, kita dapat belajar bagaimana mereka, great leader, menghadapi kesalahan dan keterpurukan. Rumusnya ternyata tetap, jika kita fokus kepada kebaikan dan keunggulan, maka kita harus tetap memikirkan dan melakukan yang baik-baik saja. Kita harus tetap melihat ke depan, melangkah, dan meninggalkan kesalahan di belakang.  ‘You can’t craft a superb future by remaining stuck in your past’. Kita tidak dapat merangkai masa depan yang baik jika kita terhenti di masa lalu’. Semua orang besar pada kenyataannya merangkai kesuksesan mereka di atas kesulitan dan penderitaan. Dan tentu kita masih dapat melihat bahwa sejarah kebangkitan peradaban orang-orang barat (renaissance) dibangun di atas puing-puing belenggu kebodohan, walaupun sangat pahit dirasakan mengingat puing-puing tersebut adalah institusi gereja.<br />
Al-Qur’an juga telah mengisyaratkan bahwa kemenangan dan pertolongan Allah, akan datang di saat hampir semua orang yang berjuang merasa kelelahan dan putus asa. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: &#8220;Kapan datangnya pertolongan Allah?&#8221; Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah:214).</p>
<p><strong>Health is Wealth</strong><br />
Mengapa topik kesehatan menjadi salah satu issu dan tolok ukur bagi seorang leader? Mungkin sebagian besar kita langsung tersingkir dari daftar calon great leaders, begitu baru masuk ke poin dua ini. Sangat jarang kita mengaitkan kesehatan dengan pribadi yang baik. Banyak para pemimpin kita yang mati karena masalah kesehatan. Bahkan banyak di anataranya yang mati muda, atau terlalu muda untuk mati. Bagi kita, mati bukanlah urusan yang dapat dinegosiasikan, tetapi rumus kita tetap berlaku, pribadi yang unggul tidak akan melupakan prajurit pertamanya yang ia pimpin, yaitu tubuhnya sendiri. Tubuh yang terdiri dari jasad dan ruh semuanya harus dipimpin juga menuju kebaikan dengan melakukan hal-hal yang baik pula. Pemimpin besar seperti Nabi Muhammad, tidak pernah mengabaikan semua hal kecuali keburukan. Dengan tubuh yang sakit, tidak mungkin seorang Muhammad mampu mengemban amanh kenabian dalam usianya yang 40 tahun. Atau tidak mungkin pula ia menjadi ‘kaisar’ dari 3 benua yang berbeda. Hampir pasti tidak mungkin ia dapat memimpin lebih dari 50 peperangan di sepanjang 20 tahun akhir hidupnya. Semuanya tidak mungkin, hanya kecuali jika ia memiliki kesehatan yang prima. Dan kita tahu bahwa sepanjang hidupnya, ia hanya sakit 1 kali saja. Sakit yang membawa kematiannya.</p>
<p>Kesehatan seorang pemimpin menjadi sebuah faktor resiko yang besar bagi siapapun, termasuk dirinya. Robin mengingatkan, ‘If you lose your health, you lose everything’. Itu berarti jika seorang pemimpin tidak sehat atau sakit, berarti peluang terjadinya kebaikan akan banyak pula hilang. Allah sudah memilihkan kita sejarah yang terbaik tentang pemimpin. Para nabi dan rasul adalah pribadi-pribadi yang sempurna baik bentuk fisik dan kesehatannya. Mereka adalah makhluk yang terpilih di antaranya adalah faktor kebugaran tubuh. Seorang Musa bahkan dengan kebugarannya mampu membunuh seseorang dengan pukulannya. Dan Muhammad Saw, adalah seorang pelari yang cepat, penunggang kuda yang tangkas, dan atletis. Tak heran jika seorang pegulat handal sekalipun dapat dikalahkannya. Jarang sekali kita menyadari bahwa kesehatan telah menjadi concern Allah dalam hal yang sangat penting, yaitu kepemimpinan. </p>
<p>Pemimpin sejati akan menjadi pemimpin sebelum ia menjadi pemimpin. Ungkapan yang ‘rumit’ ini dapat dijadikan alat untuk mengukur bagaimana seorang pemimpin dalam menghadapi keadaan sakit yang tidak dapat dihindari. Kita memiliki contoh seorang panglima kebanggaan yaitu Jenderal Sudirman. Sang jenderal sebagai pemimpin besar yang murni, tidak menjadikan sakit sebagai variabel bagi produktifitas kebaikannya. Bahkan dalam keadaan yang paling lemah sekalipun, ia tidak mau menyerah dan tetap memimpin perang gerilya walau dengan cara ditandu. Badan boleh sakit, namun pikiran dan jiwanya tetap mampu memimpin dirinya agar tetap fokus pada kebaikan. Menurut Robin, ‘Your heath will never be better than your self image’. Jenderal Sudirman memang sakit, tapi pikirannya mampu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sakit.</p>
<p>Mujahid dan mujaddid Hasan Al Banna merumuskan 40 kewajiban muslim bagi aktivis dakwah. Kualifikasi aktivis dakwah menurut beliau adalah pribadi-pribadi yang baik, taat ibadah, sehat, bugar, cerdas, tangguh, dan memiliki leadership. Beliau memasukkan unsur kesehatan ke dalam 40 kewajiban muslim yang dirangkumnya tersebut.  Beliau mengatakan, “Hendaklah engkau bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Disamping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.”  Lalu pesannya lagi, “Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok”.</p>
<p><strong>Inspiration Matter</strong><br />
Inspirasi ada di mana-mana dan semuanya berarti. Pribadi yang baik akan menyerap kebaikan dari siapa saja dan di mana saja. Leader sudah seharusnya sabar mendengarkan kemarahan anak buahnya. Karena di sana tersimpan kejujuran dan kebenaran. Umar bin Khattab dituding di muka umum oleh seorang wanita yang marah. Namun Umar sebagai seorang leader sejati, mampu melihat esensi kebenaran secara jelas walau berada di tengah api kemarahan. Sehingga wanita marah tersebut justru menjadi sumber inspirasi bagi sang leader untuk melakukan hal yang baik-baik saja. Sikap ini memerlukan ketajaman mata hati (see clearly) dan kesehatan jiwa (health).</p>
<p>Atau kisah seorang pemimpin yang shaleh, Ali bin Husen, yang sekuat tenaga menahan amarahnya saat budak wanitanya menjatuhkan kendi hingga pecah berantakan saat ia menuangkannya pada sang majikan untuk berwudhu. Budak wanita itu berkata, &#8220;Allah SWT telah berfirman:<br />
والكاظمين الغيظ<br />
&#8220;Dan orang-orang yang menahan amarahnya&#8221;. (Q.S Al Imran: 134)<br />
Ali bin Husen menjawab : &#8220;Aku telah menahan amarah itu&#8221;.<br />
Kemudian budak itu berkata pula:  Allah SWT berfirman:<br />
والعافين عن الناس<br />
&#8220;dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) manusia&#8221; (Q.S Al Imran; 134)<br />
Dijawab oleh Ali bin Husen: &#8220;Aku telah memaafkanmu&#8221; Akhirnya budak itu berkata lagi:<br />
Allah juga berfirman:<br />
والله يحب المحسنين<br />
&#8220;dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan&#8221; (Q.S Ali Imran: 134)<br />
Ali bin Husen menjawab: &#8220;Pergilah kamu karena aku telah memerdekakanmu&#8221;…</p>
<p>Seorang budak yang berbuat kesalahan konyol sekalipun, mampu menjadi sumber inspirasi bagi seorang leader untuk melakukan kebaikan yang terbaik.</p>
<p>Bagi seorang leader, semuanya adalah inspirasi untuk berbuat keabikan dan keunggulan. Robin mengatakan, ‘A day without feeling inspired is a day that you have not fully lived. You need to refill your well inspiration every day because the challenges of life will drain it every day’… kita semua, saya, anda, presiden, Isaac Newton, Steve Jobs, diberikan pengalaman dan kesempatan yang sama. Namun hanya sedikit di antara kita yang terinspirasi. Banyak sekali orang pernah melihat apel jatuh dari pohon. Tapi hanya Newton yang terinspirasi menjadi rumus fisika. </p>
<p><strong>Neglect not Your Family</strong><br />
Pemimpin yang baik, memiliki jiwa yang baik. Jika itu telah terwujud, maka kemenangan akan menjadi hal nonsense untuk dibicarakan terus menerus. Itu hanyalah sebuah keniscayaan dari kebaikan yang dilakukan dengan baik. Fokus terhadap kebaikan akan mengabaikan kemenangan dan sanjungan sebagai ikon individual. Semuanya adalah kepentingan tim.  pemimpin akan membiarkan anak buahnya menikmati kemenagan dan kesuksesan sebagai bagian dari kesuksesan diri mereka. Karena menurut Robin, apalah artinya kesuksesan jika semuanya hanya dirasakan oleh diri sendiri?, ‘what is the point in becoming super successful but ending up all alone? A huge amount of joy can be found in cultivating beautiful relationship with your family &amp; friends.’. Sebaliknya kegembiraan dari orang banyak dapat diperoleh dengan membina hubungan pribadi yang kuat terhadap keluarga dan teman (orang-orang di sekeliling kita).</p>
<p>Pemimpin besar, hampir selalu merupakan pribadi yang humanis, walaupun akan berubah menjadi seorang yang bengis di hadapan lawan-lawannya. Bahkan dalam contoh yang tidak ideal, seorang pemimpin mafia, tetap dapat membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak kecilnya dan berusaha untuk melindungi keluarganya dari bahaya dan ancaman sebesar apapun. </p>
<p><strong>Elevate Your Lifestyle</strong><br />
Pribadi yang baik memiliki kehidupan yang baik, termasuk gaya hidupnya. Lifestylenya. Lifestyle adalah cara seseorang dalam menghabiskan waktu dan uangnya. Oleh karenanya, pribadi yang baik, para great leaders, juga seharusnya memiliki cara yang terbaik dalam menghabiskan waktu dan uangnya. Jika kita kembali lagi pada rumus awal, maka great person dan leader harus mampu memastikan bahwa waktu yang berlalu dan uang yang habis terpakai akan menghasilkan produk atau nilai-nilai kebaikan.</p>
<p>Para imam dan ulama terdahulu, saat kelemahan jiwa melanda mereka, maka mereka akan mengurung diri di kamar. Bukan untuk tidur dan terlelap, tetapi menulis buku! Sehingga tak jarang jika saat sakit mereka atau saat mereka dipenjara sekalipun, menjadi saat-saat untuk menjadi lebih produktif dalam hal tertentu. Tak heran jika banyak karya fenomenal para ulama lahir dari balik jeruji dan saat mereka merasa lemah (futhur). Mereka, para great persons and leaders, senantiasa memiliki cara untuk memberikan sesuatu, kontribusi kebaikan kepada orang lain. ‘contribution is the ultimate purpose of work &amp; life’.</p>
<p>Dan pada akhirnya Robin Sarma menutup chapther ini dengan ungkapan bahwa hidup bermanfaat adalah warisan terbesar dan mulia dari manusia. “ the great and glorious legacy of human being is to live with a purpose’. Hal ini sejalan dengan perkataan Nabi Saw, “Khairukum anfauhum linnas”, Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (Al Hadits)</p>
<p><strong>Khatimah</strong><br />
Awalnya saya merasa kasihan dengan Robin Sarma karena mengetahui bahwa ia harus bersusah payah menulis buku beratus halaman, hanya mau mengatakan hal yang sederhana: ‘Lead yourself first. Only then you will get to a place as a person where you can lead other people’. Tapi benar apa kata teman saya saat MU dibantai Manci 1-6 kemarin, bahwa tidak penting kekalahannya yang 1-6, tetapi yang kita sangat ingin tahu adalah bagaimana sang juara sejati seperti MU menghadapi dan menangani kekalahan tersebut. Jadi, tidak penting berapa halaman buku TLWHNT  ditulis oleh Robin, atau malah tidak banyak orang yang membaca, tapi kenyataannya, orang awam seperti saya saja, cukup bisa merasa tergugah bukan dengan judul bukunya yang terkenal, tapi cukup dengan membaca head title chapter ke #4 saja! Dan selanjutnya saya malah kagum bahwa masalah ‘sederhana’ menyimpan banyak sekali inspirasi, tentu bagi seorang great person, apalagi great leader. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=128&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2011/10/25/to-be-a-great-leader-first-become-a-great-person/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/10/94481.jpg?w=196" medium="image">
			<media:title type="html">94481</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;La Science des Paris Van Java&#8221;&#8230;Studi Banding ke Sekolah Mutiara Bunda</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/la-science-des-paris-van-java-studi-banding-ke-sekolah-mutiara-bunda/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/la-science-des-paris-van-java-studi-banding-ke-sekolah-mutiara-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 05:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[inklusi]]></category>
		<category><![CDATA[mutbun]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara bunda]]></category>
		<category><![CDATA[paris van java]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah inklusi]]></category>
		<category><![CDATA[studi banding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[by m hary w a Matahari tersenyum ramah di pagi tanggal 4 November 2010 lalu, seolah diutus oleh Penciptanya untuk mengatakan kepada 12 pendidik darbi, “Pergilah dan pastikan kembali dengan ilmu baru!”. Tempat yang akan kami kunjungi kali ini adalah Sekolah Mutiara Bunda (Mutbun) , berlokasi di kota Bandung, ibu kota jawa barat yang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=119&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/08/cimg1439.jpg"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/08/cimg1439.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="CIMG1439" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-120" /></a></p>
<p>by <em>m hary w a</em></p>
<p>Matahari tersenyum ramah di pagi tanggal 4 November 2010 lalu, seolah diutus oleh Penciptanya untuk mengatakan kepada 12 pendidik <a href="http://www.darulabidin.com/" target="_blank">darbi</a>, “Pergilah dan pastikan kembali dengan ilmu baru!”. Tempat yang akan kami kunjungi kali ini adalah Sekolah Mutiara Bunda (Mutbun) , berlokasi di kota Bandung, ibu kota jawa barat yang di Eropa terkenal dengan sebutan Paris Van Java, karena keelokannya dulu sering dibanding-bandingkan dengan ibu kota ilmu, Paris. Jika ditempuh dengan mengendarai unta, Bandung dapat kami capai kira-kira dalam waktu 2 hari, dan hal itu akan menyebabkan beberapa kelas kehilangan guru dalam waktu lama. Alhamdulillah kemajuan teknologi yang dicapai oleh manusia, menyebabkan kami dapat menaiki Izusu Elf yang disinyalir mampu berlari hingga 180 Km/Jam, sehingga cukup waktu paling lama 2 jam untuk menempuh jarak Depok-Bandung yang kira-kira mencapai 210 Km. <span id="more-119"></span></p>
<p>Walaupun kemacetan -dan kenyataan Elf yang kami tumpangi hanya mau berlari maksimal 100 km/jam- telah menyebabkan perjalanan molor hingga 4,5 jam, kami bersikukuh untuk tetap antusias melampiaskan dahaga ilmu. Oleh karenanya, beberapa di antara kami mengisi suasana dengan joke-joke ringan dan juga makanan ringan, tentunya.</p>
<p>Singkat cerita, sampailah kami di depan SMP Mutbun pukul 10.30 Wib. Dalam keadaan setengah jetlag, kami disambut dengan sedikit kebingungan staff sekolah, karena ternyata kami sebetulnya ditunggu di SD Mutbun. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan sasaran studi banding dari SD ke SMP. Akhirnya dengan penuh persahabatan, SMP Mutbun bersedia meng-arrange kegiatan untuk kami secara mendadak. Setelah school touring, kami dipecah menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dengan narasumber yang berbeda dengan topik yang berbeda. Kebetulan penulis meminta untuk masuk dalam kelompok manajemen karena ada beberapa hal yang akan digali perihal manajemen sekolah dan SDM. </p>
<p>Penataan lingkungan yang asri serta keramahan warga sekolah Mutbun memberikan kesan yang kuat pada kami berupa nuansa kekeluargaan yang begitu kental dan perasaan betah untuk berlama-lama di sana. Terlihat di beberapa sudut, siswa-siswa yang membantu siswa dengan kebutuhan khusus (ABK) dalam belajar. Ya, Mutbun memang menjadi salah satu kiblat sekolah inklusi di Indonesia. </p>
<p>Beruntung bagi kami karena ‘kesalahan’ penyambutan berujung berkah. Ternyata founder Mutbun, Ibu Sara yang tidak termasuk dalam jadwal pemberi materi justru sedang berkunjung di SMP Mutbun. Tak pelak, saat tengah berdiskusi dengan para pimpinan Mutbun, kamipun disambangi langsung oleh sang founder Sekolah Mutbun, yang punya nama asli Muharani Meisarah. Harus diakui, ibu Sara merupakan sosok di balik kesuksesan Mutbun. Dengan nama besar beliau, terbayang bahwa kami akan kesulitan untuk dapat beraudiensi langsung dengan beliau. Namun, begitu sang founder duduk di tengah-tengah kami, kesan senjang langsung hilang berganti dengan kedekatan karena sosok yang begitu bersahaja baik penampilan maupun tutur katanya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera setelah welcome speech yang beliau sampaikan kepada kami, penulis terpaksa menunda menyatroni hidangan kue-kue yang disajikan, untuk segera mencegatnya dengan beberapa pertanyaan.<br />
“Bu, apa sih rahasia sukses Mutbun?” kira-kira itulah pertanyaan penting yang mewakili semua pertanyaan lain yang sifatnya teknis. Dengan penuh kerendahan hati, Ibu Sara mengaku cukup sulit menjawab pertanyaan ini, karena menurut beliau, Mutbun tidak memiliki sesuatu yang rahasia yang tidak dimiliki orang lain. Bahkan ia tidak berusaha mencari sesuatu yang baru untuk menjaga sustainabilitas ‘perusahaannya’. “Mungkin…”, katanya agak ragu. “Kami selalu berupaya meningkatkan derajat service excellent nya. Jika ada hal yang masih mengecewakan (kecewa), bagaimana mengupayakannya berubah menjadi memuaskan (puas). Dan setelah puas, bagaimana bisa menjadi excellent (lebih dari standar permintaan)”. Jadi menurut beliau, cukup kita meneruskan program-program yang sudah ada, tapi bagaimana supaya hal tersebut selalu meningkat derajat kepuasannya. </p>
<p>Saat ditanya “Apa yang menjadi cirikhas keberhasilan lulusan Sekolah Mutbun?”, kembali ia mengaku sulit menjawabnya. Ia menyatakan bahwa pendidikan bukanlah sebuah proses jangka pendek. Hasil pendidikan kadang baru bisa dilihat setelah berjarak puluhan tahun lamanya. Tidak ada pendidikan yang instant. Tapi katanya, lulusan Mutbun yang terbiasa dengan pola pendidikan active learning dan kesetaraan, kenyataannya berhasil leading di sekolah lanjutan yang lebih tinggi. Mereka biasanya menjadi agen-agen perubah dalam komunitasnya. Terbiasa dengan diskusi, mengambil peran, dan melakukan perubahan-perubahan. Luar biasa!<br />
Tak terasa, waktu yang disediakan untuk kami sudah habis. Kamipun harus segera pamit karena mereka masih memiliki agenda yang lain. Setelah mengucapkan terima kasih dan menyampaikan undangan untuk berkunjung ke Darul Abidin, tepat pukul 14.30 kamipun meninggalkan halaman Sekolah Mutbun.</p>
<p><em>Merci. Au revoir Mutbun.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=119&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/la-science-des-paris-van-java-studi-banding-ke-sekolah-mutiara-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/08/cimg1439.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">CIMG1439</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membentuk karakter anak, tugas siapa?</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/membentuk-karakter-anak-tugas-siapa/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/membentuk-karakter-anak-tugas-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 04:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bullying]]></category>
		<category><![CDATA[disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[labelling]]></category>
		<category><![CDATA[restitusi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[This image taken from here by m hary w a Pada kesempatan wawancara dengan orangtua calon siswa sebuah SMP di Depok tahun ajaran 2007/2008, seratus persen menyatakan bahwa mereka menilai keberhasilan seorang anak di masa depan adalah diukur dari akhlak atau karakternya, bukan angka-angka prestasi akademis. Akhlak yang baik seperti rajin beribadah, sopan, santun, disiplin, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=112&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.leadingtoday.org/Onmag/2002%20Archives/june02/tj-june02_files/image004.gif"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/08/image0041.gif?w=274&#038;h=300" alt="" title="image004" width="274" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-115" /></a><br />
This image taken from <a href="http://www.leadingtoday.org/Onmag/2002%20Archives/june02/tj-june02_files/image004.gif" target="_blank">here</a></p>
<p>by <em>m hary w a</em></p>
<p>Pada kesempatan wawancara dengan orangtua calon siswa sebuah SMP di Depok tahun ajaran 2007/2008, seratus persen menyatakan bahwa mereka menilai keberhasilan seorang anak di masa depan adalah diukur dari akhlak atau karakternya, bukan angka-angka prestasi akademis. Akhlak yang baik seperti rajin beribadah, sopan, santun, disiplin, berani, mandiri, pantang menyerah adalah karakter yang dipandang lebih penting oleh orangtua siswa dibanding nilai di dalam raport.  Tanpa mengesampingkan pentingnya kesuksesan dalam bidang akademis, banyak orang mulai tersadar bahwa clever is nothing without a good character. Menjadi pintar (clever) itu penting, tapi tidak ada artinya tanpa didampingi karakter yang baik. Semua sudah mafhum bahwa para pelaku kejahatan kerah putih adalah para bankir, anggota dewan, dan para eksekutif yang memiliki kecerdasan tinggi. Sehingga Islam tidak pernah menempatkan kepintaran, pangkat, jabatan, dan atribut dunia seseorang pada kedudukan yang tinggi. Jauh-jauh hari Nabi Saw sudah mengingatkan kita semua bahwa “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (Hadits Mutafaqun ‘Alaihi). Bahkan Allah Swt menganggap orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa, “Inna Akromakum ‘Indallahi Atqokum” (QS Al Hujarat:13), bukan orang yang paling tinggi IQ nya.<span id="more-112"></span></p>
<p>Karakter individu berkaitan erat dengan karakter kolektif di mana individu tersebut berkumpul. Karakter suatu bangsa akan dengan mudah dijumpai dalam individu-individunya. Bangsa Jepang yang terkenal dengan etos kerjanya, tergambar dalam cara berpikir dan bertindak manajer dan pekerjanya. Seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer bahkan pernah menyatakan bahwa, Indonesia sejatinya adalah sebuah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang berlimpah. Jika saat ini ternyata kita menjadi bangsa yang terpuruk, banyak hutang, dan kemiskinan di mana-mana, itu karena kita tidak memiliki pemimpin yang berkarakter.</p>
<p>Banyak orangtua yang mengeluh tentang karakter anaknya. “Pak, kenapa ya anak saya suka melawan orang tua?”, atau “Kenapa anak saya malas sekali belajar?”.<br />
Apa yang ditampilkan seorang anak dalam bentuk karakter memang tidak terlepas dari kondisi psikologis sang anak yang sedang berkembang. Misalnya anak kelas 3 sering digambarkan sebagai remaja kecil yang sudah mulai banyak ‘memberontak’ dibanding saat mereka masih di kelas 1 atau 2.  Atau anak kelas 8 yang mulai ‘rajin dandan’ seiring perkembangan hormon reproduksi mereka. Kondisi psikologis dan fisik mereka memiliki tabiat khasnya sendiri seperti digambarkan di atas. Namun sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan heterogen, selalu ada pengaruh ekstrinsik yang menstimulus kepribadian seorang anak. Anak akan mendapatkan pengaruh terutama dari orang-orang yang berada di sekitarnya seperti ayah, ibu, kakak, pembantu, guru di sekolah, teman, dan sebagainya. Mereka yang paling intens berinteraksi dengan anak dan memberikan pengaruh paling nyata inilah yang dalam istilah psikologi disebut dengan significant others. </p>
<p>Disadari bahwa anak tidak mungkin bisa didampingi selama 24 jam nonstop baik oleh guru maupun orangtua sekalipun. Sementara banyak waktu di mana anak mungkin saja mendapatkan pengaruh buruk tanpa pendampingan kita, baik di jalan, di kendaraan, maupun di tempat-tempat lain, tak terkecuali di rumah dan sekolah, di mana terdapat waktu mereka tanpa pengawasan. Oleh karenanya, solusi terbaik adalah dengan menciptakan benteng dan filter di dalam hati dan fikiran mereka. Bagaimana mereka bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Disiplin atas dasar kesadaran, bukan karena takut dimarahi.</p>
<p>Idealnya, arah pembinaan karakter di sekolah adalah membangun self-discipline dan kesadaran, bukan semata-mata indoktrinasi atau paksaan. Merekalah yang diajak untuk bertanggung jawab terhadap perilaku mereka sendiri, bukan guru atau orangtua. Dalam menangani pelanggaran disiplin, anak seyogyanya diajak untuk berdiskusi bagaimana pandangan mereka terhadap perilaku indispliner tersebut? Setelah timbul kesadaran, ditanyakan mengapa hal demikian bisa terjadi? Di sini guru atau orangtua dapat mendapatkan informasi dari anak apa yang menyebabkan dia melakukan pelanggaran. Kadangkala, alasannya sanat manusiawi dan masuk akal. Kitapun dituntut untuk menjadi pendengar sekaligus pengadil yang bijaksana. Terakhir ajak anak untuk memikirkan kira-kira apa yang dapat dilakukan agar kejadian serupa tidak berulang? Dari pendekatan ini akan timbul rasa trust dan respect dari anak terhadap kita.</p>
<p>Sejauh ini banyak sekolah telah membuat beberapa program untuk pembentukan karakter siswa yang dilandaskan pada penanaman nilai-nilai (values), misalnya <a href="http://www.darulabidin.com/" target="_blank">Sekolah Darul Abidin</a> di Depok memiliki values Disiplin, Amanah, Ramah, Berbagi, Integritas, Teamwork, Antusias, Kemandirian, Wawasan, dan Adil, yang dibuatkan akronim DARBI TAKWA. Values DARBI TAKWA ini diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah beserta program turunannya, mulai dari mentoring/Living Value Activities, Pin Darbi, dan sebagainya.</p>
<p>Namun sebelum melangkah lebih jauh dan mengharapkan hasilnya, ada beberapa aspek pembentukan karakter anak yang harus kita sepakati bersama yaitu pertama, aspek sinergitas antara sekolah dan rumah. Orangtua dalam hal ini harus terlibat aktif di dalam pembentukan karakter anak di rumah. Tanpa adanya kesinambungan program di rumah, maka pembentukan karakter akan kehilangan visinya. Pertanyaan di atas akan lebih mudah dijawab dan diselesaikan seandainya sekolah dan orangtua sama-sama sepakat dengan model pendekatan seperti apa yang digunakan. Jangan misalnya, saat anak kedapatan merokok, sekolah menggunakan pendekatan restitusi, tapi di rumah anak mendapat hukuman fisik, atau bahkan malah mendapat ‘dukungan’ karena orangtuanya juga perokok berat. Di lain waktu tanpa disengaja anak kadang masih mendapatkan verbal bullying (kata-kata yang mengandung ancaman, intimidasi, diskriminasi, labelling, dsb) baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. </p>
<p>Sejauh kita memandang pembentukan karakter menjadi hal paling penting dalam proses pendidikan anak, maka sudah selayaknya kita melakukan hal-hal penting dan luar biasa pula. Misalnya menahan diri untuk tidak menyalakan TV saat anak sedang mengerjakan PR atau persiapan ulangan, bahkan ikut buka buku, belajar di samping mereka. Dalam hal ini aspek konsistensi dan keteladanan sangat diperlukan. Jika kita ingin anak kita rajin belajar, kita juga harus terlihat sebagai sosok yang rajin belajar. Demikian juga di sekolah, hampir mustahil mengharapkan anak-anak murid menjadi manusia yang tepat waktu jika mereka kerap menyaksikan guru-gurunya terlambat mengajar. Selanjutnya saat anak kita berhasil menunjukkan karakter yang baik seperti sholat tepat waktu tanpa disuruh dan taat pada orangtua, jangan segan-segan kita merayakannya dengan memberikan hadiah yang lebih besar dan mengejutkan dibanding saat mereka berulang tahun. Hal ini akan memberikan kesan yang kuat di dalam diri anak, bahwa perilaku yang mereka tunjukkan merupakan sesuatu yang sangat penting –bukan hal yang biasa-biasa saja- di mata orangtua mereka. Tanpa konsistensi dan keteladanan, anak akan banyak menjumpai hal yang paradoksal. Alih-alih membentuk karakter, anak malah belajar menjadi seorang hipokrit. Karakter yang baik hanya untuk anak saja, orang dewasa boleh melanggarnya. Na’udzubillahi min dzalik.</p>
<p>Kesimpulannya, membentuk karakter anak adalah tugas bersama, terutama orangtua dan sekolah. Jika hal ini disepakati, maka orangtua sah-sah saja menuntut sekolah jika tidak ada program pembentukan karakter yang melibatkan mereka, dan sekolah boleh memanggil orangtua jika terdapat tindakan kontra produktif terhadap anak di rumah (yang dilakukan oleh siapa saja). Tentu semuanya berada di dalam suasana saling terbuka dan menghargai, sehingga tidak terjadi saling tuding dan menyalahkan. Pertanyaannya sekarang adalah, siapkah kita menjadi tauladan dan mentor yang baik bagi anak-anak kita?<br />
Wallahu A’lam Bis Showwab.</p>
<p><em>Glossary:</em><br />
Restitusi (restitution) = pendekatan refleksi, dialogis, untuk membangun kesadaran dan self discipline pada anak.</p>
<p>Bullying  = suatu bentuk penyalahgunaan tindakan dalam bentuk apapun terhadap seseorang atau kelompok tertentu yang berulang dan menimbulkan perasaan tertekan dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Labelling = memberi cap negatif kepada anak, seperti sebutan anak yang ‘selalu membantah’, ‘tukang berbohong’, ‘bodoh’, ‘pemalas’, dsb.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=112&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2011/08/03/membentuk-karakter-anak-tugas-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2011/08/image0041.gif?w=274" medium="image">
			<media:title type="html">image004</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat dari Neraka Kerja</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2010/12/10/selamat-dari-neraka-kerja/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2010/12/10/selamat-dari-neraka-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 07:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[essay]]></category>
		<category><![CDATA[frustrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[reframing]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[by Mohamad Hary W A image taken from savagechickens Seorang senior HR manager pada sebuah bank pemerintah pernah mengatakan, jika ada karyawan yang sering datang terlambat, sering mangkir, pulang lebih awal, dan banyak pekerjaannya tidak beres, kemungkinan besar dia merasakan tempat kerjanya sudah bagaikan neraka. Tinggal menentukan saja jenis nerakanya, neraka wail atau jahannam. Bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=107&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>by <strong>Mohamad Hary W A</strong></em><br />
<a href="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/12/chickenwelcomehell.jpg"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/12/chickenwelcomehell.jpg?w=295&#038;h=300" alt="" title="chickenwelcomehell" width="295" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-108" /></a></p>
<p>image taken from <a href="http://www.savagechickens.com/images/chickenwelcomehell.jpg">savagechickens</a></p>
<p>Seorang senior HR manager pada sebuah bank pemerintah pernah mengatakan, jika ada karyawan yang sering datang terlambat, sering mangkir, pulang lebih awal, dan banyak pekerjaannya tidak beres, kemungkinan besar dia merasakan tempat kerjanya sudah bagaikan neraka. Tinggal menentukan saja jenis nerakanya, neraka wail atau jahannam. </p>
<p>Bagi orang ini, melihat pimpinan sudah seperti melihat penjaga neraka. Jangankan dipanggil ke ruang pimpinan, melihat senyum sang pemimpin pun bagaikan melihat seringai malaikat Malik. Ironisnya, sebetulnya ia tengah berada di sebuah tempat laksana surga lengkap dengan peri-peri cantik yang mondar-mandir melayani dan seorang penjaga ‘kebun’ yang baik hati.</p>
<p>Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang merasakan ‘hawa neraka’ alias ketidaknyamanan dan frustrasi di tempat kerja. Bisa karena pimpinannya bawel dan banyak mendikte, teman-teman kerja yang senangnya mengkritik, atau merasa karirnya tidak naik-naik sementara rekan yang baru masuk dan menurutnya memiliki kemampuan lebih rendah, lebih banyak mendapatkan kepercayaan atasan. </p>
<p>Mungkin untuk merubahnya kita bisa berkhayal, misalnya dengan mengkudeta sang pimpinan yang bawel dan banyak mendikte itu melalui Gerakan 30 Juni (G30J), memecat semua rekan kerja yang menyebalkan, lalu membuat siaran pers di RRI bahwa saat ini perusahaan di bawah kendali penuh kita. Atau yang mudahnya, kita kabur saja, melarikan diri alias resign.</p>
<p>Namun sebetulnya kuncinya ada di otak kita. Pikiran kitalah yang menciptakan neraka tadi. Guru-guru terbaik yang mengajarkan banyak hal kepada kita, dibayangkan sebagai siluman dari rumah jagal Cakung. Padahal, pimpinan yang bawel dan banyak mendikte itu adalah guru yang mengajarkan bahwa jika ingin berhasil, kamu harus kuat dibanting, dan jika ingin menjadi pemimpin yang baik, belajarlah untuk loyal kepada atasanmu saat ini, dan kamupun harus paham bahwa bawel dan banyak mendikte itu tidak disukai bawahanmu. Rekan kerja yang banyak kritik mengajarkan kepada anda bahwa jika ingin sukses, anda harus bisa mempertanggung jawabkan seluruh pekerjaan anda. Dan anda belajar bahwa mengkritik bagaikan menghujamkan pisau ke dalam dada orang lain. Mereka akan tersedak, melolong kesakitan, dan koma. Meskipun sembuh dari koma, luka jahitan akan tetap berbekas walau dijahit oleh dokter spesialis RS Mitra, dan traumanya akan terus mengikuti sepanjang hidup. Kita menjadi paham kalau dikritik itu sakit. Oleh karenanya berpikirlah baik-baik sebelum mengkritik teman anda, terutama kritikan yang hanya didasari perasaan tidak suka.  </p>
<p>Tidak heran kalau seorang Scientologist, L. Ron Hubbard di awal 1950-an berkata, &#8220;Orang berkembang, anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang&#8221;. Dia akan babak belur, tapi kemudian sukses.</p>
<p>Nelayan jepang punya cara unik untuk membawa ikan hasil tangkapan mereka  tetap segar sesampainya di darat setelah perjalanan panjang dari tengah samudra. Mereka tidak membekukan ikan tersebut, karena orang jepang bisa merasakan ikan itu sudah tidak segar lagi. Mereka, para nelayan  juga tidak hanya memasukkan ikan-ikan ke dalam tangki besar berisi air, karena ikan yang berjejalan di tangki membuat ikan diam dan lemas. Itu mengurangi kesegaran ikan. Maka solusi yang dilakukan agar ikan tetap segar sesampainya di darat adalah, tetap memasukkannya ke dalam tangki berisi air, tapi lengkap dengan seekor hiu kecil di dalamnya! Sangat sederhana. Ikan hiu itu telah membuat ikan-ikan terus bergerak aktif. Walaupun rasanya seperti diteror preman ambon, tapi tubuh mereka terbukti menjadi tetap segar dalam jangka waktu lama. </p>
<p>Jadi, kesimpulannya, untuk merubah neraka menjadi surga, kita perlu membingkai ulang (reframing) apa yang kita hadapi dan rasakan sehari-hari dengan bingkai yang baik dan kaca yang jernih. Sebab bisa jadi diri kitalah yang sesungguhnya keras kepala, gampang tersinggung, dan bermental memble. Sehingga sedikit saja orang lain mengkritik dan membentak, kita jadikan sebagai alasan kuat untuk down atau melarikan diri (resign). Jika kita lari, sesungguhnya kita telah drop out dari kuliah manajemen. Dan kalau kita menganggap telah berhasil keluar dari neraka, sebenarnya kita sedang berjalan menuju ke pintu neraka yang lain karena neraka itu masih ada di dalam pikiran kita!</p>
<p>Referensi:<br />
<a href="http://klinikotak.blogspot.com/search?updated-min=2009-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&amp;updated-max=2010-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&amp;max-results=5">http://klinikotak.blogspot.com/</a> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=107&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2010/12/10/selamat-dari-neraka-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/12/chickenwelcomehell.jpg?w=295" medium="image">
			<media:title type="html">chickenwelcomehell</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen SDM dan Employee Appraisal</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/23/manajemen-sdm-dan-employee-appraisal/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/23/manajemen-sdm-dan-employee-appraisal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 04:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[employee appraisal]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[penilaian]]></category>
		<category><![CDATA[penilaian kinerja guru]]></category>
		<category><![CDATA[sdm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[by Mohamad Hary W A image taken from www.pahrdf.org.ph Pendahuluan Dalam sebuah organisasi, baik perusahaan maupun bentuk organisasi lainnya, sudah dimaklumi adanya kegiatan yang mengatur dan mengembangkansumber daya manusia yang berada dalam organisasi tersebut untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan organisasi. Hal ini dikenal dengan istilah manajemen sumber daya manusia (MSDM) atau human resource management. Sehingga menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=93&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>by Mohamad Hary W A</em></p>
<p><a href="http://www.pahrdf.org.ph/pahrdf/Default.aspx"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/06/about-pahrdf.jpg?w=180&#038;h=276" alt="" title="About PAHRDF" width="180" height="276" class="alignnone size-full wp-image-95" /></a><br />
<em>image taken from</em> <a href="http://www.pahrdf.org.ph/pahrdf/Default.aspx"><em>www.pahrdf.org.ph</em></a></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Dalam sebuah organisasi, baik perusahaan maupun bentuk organisasi lainnya, sudah dimaklumi adanya kegiatan yang mengatur dan mengembangkansumber daya manusia yang berada dalam organisasi tersebut untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan organisasi. Hal ini dikenal dengan istilah manajemen sumber daya manusia (MSDM) atau human resource management. Sehingga menjadi jelas bahwa MSDM memiliki kaitan yang erat terhadap keberhasilan sebuah organisasi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh MSDM adalah semua hal yang menyangkut sumber daya manusia, yaitu orang per orang yang berada dalam organisasi, mulai dari melakukan pengumpulan dan penyimpanan data diri pegawai, administrasi, rekruitmen dan seleksi pegawai, pelatihan, penggajian, dan penilaian kinerja pegawai. Pada organisasi yang sudah berkembang, ditambah lagi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat lanjutan seperti memperbaharui dan mengembangkan budaya organisasi, pengembangan manajemen, perencanaan strategis jangka panjang, dan manajemen ilmu pengetahuan yang dikenal dengan istilah Knowledge Management. Semua kegiatan MSDM tersebut menjadi sebuah sistim yang berjalan terus menerus dari hari ke hari dalam upayanya menjalankan misi organisasi dan mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini manajer SDM memiliki peran yang sangat penting, walaupun jika dikaitkan dalam ilmu manajemen marketing, kegiatan MSDM lebih sering bersifat below the line dibanding above the line. Dikarenakan sifatnya yang bekerja sebagai supporting dari sebuah sistem keseluruhan. Sebagai perumpamaan, banyak orang yang tidak mengetahui keberhasilan raksasa industri high technology, IBM yang pada tahun 2003 bangkit dari keterpurukan dan kini kembali menjadi satu dari 10 perusahaan top dunia, ternyata dimotori oleh seorang senior Vice President SDM bernama J Randall McDonald, yang melakukan strategi SDM, seperti memotong jenis-jenis pengeluaran inefisiensi yang dilakukan pegawai (cut costs policy), melakukan pembenahan dan pendekatan yang intensif terhadap serikat pekerja, merestrukturasi sistim pendanaan pensiun dan fasilitas (benefit) pegawai untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan bekerja, dan membuat segmentasi pegawai berdasarkan nilai-nilai customer satisfaction yaitu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang spesifik secara khusus, sehingga dengan strategi terakhirnya ini, muncullah apa yang dinamakan On Demand Business Strategy yang fenomenal itu.<span id="more-93"></span></p>
<p><strong>Employee Appraisal</strong><br />
Berkaitan dengan fungsi yang dimainkan dalam MSDM, yaitu membina pegawai dengan pencapaian kinerja (performa) yang terstandarisasi, maka dibuatlah seperangkat aturan dan prosedur operasional pada setiap lingkup dan jenis pekerjaan. Pegawai iinformasikan untuk melakukan pekerjaan sesuai standar yang ditetapkan dan dilatih bagaimana melakukan pekerjaan sesuai standar dengan langkah-langkah benar. Setelah itu MSDM mengevaluasi (appraise) pencapaian dan mutu pekerjaan yang dilakukan pegawai dengan mengumpulkan</p>
<p>informasi mengunakan seperangkat penilaian baku, untuk kemudian menyampaikan (feedback) penilaian kinerja tersebut kepada setiap pegawai yang bersangkutan. Dalam istilah MSDM proses mengevaluasi pegawai ini disebut Employee Appraisal, dan rangkaian dari keseluruhan kegiatan ini dikenal sebagai Performance Management.</p>
<p>Dalam performance management, pada umumnya issu terpenting yang dibicarakan adalah masalah perangkat penilaian yang dapat menghasilkanpengukuran kinerja yang akurat. Banyak penelitian yang difokuskan untuk</p>
<p>memperbaiki instrument pengukuran dengan harapan akan didapat penilaian yang akurat dan meminimalisir kesalahan pengukuran. Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi semisal software yang terintegrasi dengan web (web based) dalam pengukuran seperti yang dilakukan The Zoological Society of San Diego,<br />
pengelola kebun binatang dan lahan konservasi satwa yang berpusat di San Diego, Amerika Serikat, di mana mereka menggunakan software e-Appraisal yang terintegrasi dengan internet bagi pegawainya. Dengan sistim appraisal tersebut, dihasilkan pengukuran yang akurat, transparan, dan mudah dilakukan.</p>
<p><strong>Masalah Etika dalam Employee Appraisal</strong><br />
Dalam pelaksaaan employee appraisal, yang berperan dalam proses pengukuran bukan hanya perangkat/instrument yang komprehensif. Dalam pengukuran kinerja, dikenal istilah 360 degree of employee appraisal, yaitu untuk menilai kinerja seseorang, penilaian tidak hanya berasal dari atasan saja, namun diperlukan masukan atau penilaian dari orang disekelilingnyaseperti co-worker (rekan kerja), subordinates (bawahan), customers (pemakai produk/jasa), dan self (diri sendiri), agar didapat keseimbangan dalam penilaian dan mengurangi subjektifitas. Filosofi dari pendekatan 360 degree adalah, semakin banyak pihak yang terlibat dalam penilaian, maka data yang dihasilkan akan semakin valid, sebuah rumusan yang sederhana dan tidak</p>
<p>mengada-ada.</p>
<p>Namun, bersamaan dengan sifat penilai (rater) sebagai manusia yang memiliki konteks historis, watak, dan perilaku, maka tidak bisadilepaskan pengaruh hal-hal terebut dalam menghasilkan sebuah penilaian kepada</p>
<p>seseorang. Oleh karenanya, masalah etika menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi manajer atau atasan yang terlibat menentukan hasil akhir dari sebuah appraisal. Terlepas dari informasi dan data yang didapatkan dalam proses appraisal, seorang manajer akan dihadapkan pada kenyataan bahwa<br />
apakah pegawai itu termasuk orang yang disukainya atau tidak.</p>
<p>Sifat keterbatasan yang ada pada manusia, menjadikan aspek etika menjadi hal yang terus berkembang dan tetap relevan untuk dibicarakan, selama penilaian akhir masih melibatkan manusia. Sayangnya, sangat sedikit<br />
penelitian yang membahas pengaruh atau keterkaitan etika dalam penilaian kinerja.</p>
<p>Pendekatan Rasional dan Politik Organisasi dalam Employee Appraisal<br />
Idealnya, jika tidak ada pengaruh yang signifikan dari pendapat dan penilaian manusia, perangkat dan instrumen penilaian dapatdipercaya untuk menghasilkan penilaian yang akurat. Menilai seseorang apaadanya berdasarkan hasil dari instrumen penilaian dan mengabaikan pengalaman pribadi penilai (rater) dengan orang tersebut, akan menghasilkan sebuah proses penilaian (appraisal) yang rasional dengan kriteria fair (adil), honest (jujur), dan unbiased (tidak bias). Dalam MSDM. hal ini dinamakan aliran atau pendekatan rasional.</p>
<p>Dilihat dari sisi idealis, pendekatan ini menjadi semacam lampu penerang yang membimbing MSDM dalam organisasi menjalankan perannya. Semua orang akan sependapat dan meyakini kebenaran dari pendekatan atau aliran rasional ini.</p>
<p>Namun, sebuah kenyataan mengejutkan yang tidak bisa dipungkiri adalah, sebagian besar manajer melakukan manipulasi penilaian kinerja untuk tujuan-tujuan tertentu. Usaha memanipulasi hasil employee appraisal untuk tujuan tertentu dinamakan aliran atau pendekatan politik organisasi, di mana ada semacam rekayasa dengan maksud tertentu yang didasarkan pada kepentingan atau tujuan besar organisasi. Dalam beberapa kasus, pendekatan politik ini dipandang memiliki kebaikan karena membantu organisasi dalam mencapai tujuan. Contohnya, seorang manajer mendapatkan hasil penilaian kinerja seorang pegawai yang kurang baik: tidak lagi komitmen dengan jam kerja dan kualitas pekerjaannya yang jelek. Terdapat kenyataan bahwa pegawai ini adalah seorang yang berpengaruh dan seorang pemimpin informal bagi pegawai lainnya. Maka dalam menyampaikan feedback, manajer tidak bisa hanya menggunakan pendekatan rasional saja, dia perlu memanipulasi penyampaian agar tidak muncul respon yang negatif dan dapat berakibat pada tindakan-tindakan yang merugikan organisasi. Misalnya, manajer mengatakan bahwa kinerja yang bersangkutan cukup baik dan selanjutnya organisasi meminta orang tersebut untuk membantu mengkondisikan pegawai lain untuk lebih komitmen dengan tujuan organisasi. Dalam hal ini, manajer memanipulasi penilaian untuk mendapatkan keuntungan, pertama dari diri yang bersangkutan yang respek karena awalnya mengira dirinya dinilai kurang baik, motivasinya kembai meningkat, dan kedua pengaruhnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan pada beberapa pegawai lain yang tidak berkomitmen dengan aturan organisasi.</p>
<p>Bahayanya, praktek politik organisasi dalam penilaian kinerja tidak memiliki rambu yang jelas, seiring dengan minimnya perhatian para akademisi untuk membahas masalah etika, sehingga banyak kasus yang memprihatinkan terjadi, di mana penilaian kinerja dipengaruhi oleh like and dislike penilai dengan yang dinilai, atau bahkan dipengaruhi oleh dendam pribadi.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan secara hati-hati adalah adanya beberapa hasil penelitian yang memperlihatkan adanya dampak yang negatif dari praktek politikal approach ini. Menurut Curtis, Harvey, dan Rayden pada tahun 2005, Political appraisal dapat menyebabkan beberapa konsekuensi yang tidak diharapkan. Masih menurut mereka, kemurahan hati atau belas kasihan menjadi latar belakang yang paling umum terjadinya ketidak akuratan penilaian kinerja dan merusak sistem kompensasi berdasarkan kinerja. Senada dengan itu, menurut peneliti lain (termasuk Orey, Roberts, dan Longenecker), political performance appraisal yang dilatarbelakangi rasa belas kasihan ini menyebabkan manajer kesulitan menyampaikan feedback yang akurat, alih-alih meningkatkan motivasi dan kinerja-malah sulit untuk mengakhiri kinerja yang buruk, dan sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan pegawai. Bahkan Longenecker mengingatkan bahwa memberi nilai terlalu tinggi dengan tujuan politis dapat menyebabkan pegawai menjadi sinis dan kehilangan kepercayaan terhadap proses appraisal karena menimbulkan prasangka akan ketidak-jujuran proses appraisal, sebaliknya, menurut Glen, memberikan nilai lebih rendah dari yang sebenarnya untuk tujuan politis akan menurunkan motivasi kerja, meningkatkan turnover pegawai, dan bahkan meningkatkan resiko tuntutan hukum.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Pendekatan atau aliran rasional dan politik organisasi dalam penilaian kinerja adalah hal yang secara alami baik sadar maupun tidak sadar terjadi dalam tubuh organisasi. Namun, penggunan pendekatan politik organisasi dalam penilaian pekerja harus dilakukan secara berhati-hati, sadar, melibatkan unsur-unsur strategis organisasi, dan benar-benar untuk kemaslahatan organisasi. Di sisi lain, organisasi atau manajer tidak perlu takut dan ragu<br />
untuk memberikan rating yang rendah kepada seorang pegawai, sepanjang semua syarat dipenuhi dan dilakukan secara jujur dan konsisten dengan tujuan organisasi.</p>
<p>Dalam sebuah organisasi pembelajar, terdapat budaya yang mengakomodir kesalahan-kesalahan yang dilakukan pegawainya, sepanjang pegawai konsisten dengan tujuan organisasi dan tidak memiliki motif politis yang merugikan. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dianggap sebagai pengetahuan baru yang berguna bagi perjalanan organisasi di masa yang akan datang. Oleh karenanya, budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk mekanisme penilaian kinerja yang rasional ataupun politis.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=93&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/23/manajemen-sdm-dan-employee-appraisal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/06/about-pahrdf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">About PAHRDF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penilaian Kinerja Guru di Sekolah</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/21/penilaian-kinerja-guru-di-sekolah/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/21/penilaian-kinerja-guru-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 10:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kinerja]]></category>
		<category><![CDATA[penilaian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Image taken from www.cartoonstock.com by mharywa Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, kegiatan manajemen kinerja ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan pendidikan. Oleh karenanya, secara ideal, sebuah organisasi pendidikan mampu memberikan kepastian kepada stakeholder, bahwa pegawai sebagai guru dan semua tenaga kependidikan telah melewati proses penilaian kinerja yang rasional. Mungkin tidak ada orangtua/wali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=90&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/msh/lowres/mshn143l.jpg"><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/06/mshn143l.jpg?w=300&#038;h=265" alt="" title="mshn143l" width="300" height="265" class="alignnone size-medium wp-image-101" /></a><br />
<em>Image taken from</em> <a href="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/msh/lowres/mshn143l.jpg">www.cartoonstock.com</a></p>
<p><em>by mharywa</em></p>
<p>Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, kegiatan manajemen kinerja ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan pendidikan. Oleh karenanya, secara ideal, sebuah organisasi pendidikan mampu memberikan kepastian kepada stakeholder, bahwa pegawai sebagai guru dan semua tenaga kependidikan telah melewati proses penilaian kinerja yang rasional. Mungkin tidak ada orangtua/wali murid yang mau di dalam sekolah terdapat pegawai pendidikan (guru) yang dinilai secara tidak akurat.</p>
<p>Secara umum, sekolah secara sadar menyematkan berbagai prinsip dan spirit keagamaan yang luhur dan mengandung nilai-nilai virtue (kesholehan), seperti prasangka baik, kasih sayang, saling menghormati, membantu, dan tenggang rasa. Sehingga dari semula, patut dicurigai bahwa organisation goals dari kebanyakan sekolah adalah membina dan mempertahankan para pegawainya atas dasar kasih sayang dan belas kasih (leniency).<span id="more-90"></span></p>
<p>Penulis menduga sampai sejauh ini, proses majemen kinerja di kebanyakan sekolah dipengaruhi oleh tujuan organisasi tadi dan kerap menghasilkan pendekatan politis, bukan didasarkan pada angka-angka, prestasi, dalam proses employee appraisal.</p>
<p>Meskipun demikian, atas kesadaran organisasi akan pentingnya mencapai standar kualitas mutu layanan pendidikan yang telah ditentukan, sering terjadi pembahasan yang panjang untuk menjalankan sebuah pendekatan politis terhadap hasil penilaian kinerja. Oleh karenanya, perlu dibuat sebuah mekanisme yang mengakomodir sisi pembinaan pegawai dan pemenuhan standar kinerja.</p>
<p>Mekanisme manajemen kinerja yang digagas adalah berdasarkan filosofi nilai keislaman, di mana kesholehan pribadi dan komunitas harus dapat menghasilkan kinerja yang tinggi. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an Allah berfirman tentang nilai bekerja bagi seorang muslim, ”Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasulnya dan Orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian”, ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bebuat ihsan (melakukan sesuatu dengan sempurna)” dan Hadits Nabi ”Sesungguhnya Allah lebih menyukai seorang muslim yang kuat dibanding muslim yang lemah”. Dari sini dapat dirumuskan bahwa, orang yang disukai Allah danagama adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dengan hasil optimal dan tidak memberi ruang bagi kemalasan dan sifat gampang menyerah (lemah)”.</p>
<p>Lalu bagaimana usaha dalam menciptakan kesadaran di benak setiap pegawai bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara kesholehan dengan kinerja yang optimal? Karena faktanya banyak pegawai yang sholeh (rajin sholat, mengaji, kata-katanya bijak, santun) tapi tidak rajin dan menunjukkan kinerja yang rendah (selalu terlambat masuk, pulang lebih cepat, tidak memenuhi kelengkapan administrasi, mengabaikan aturan, dsb.).</p>
<p>strateginya adalah membuat sebuah kontrol yang dapat menjamin kesesuaian antara perilaku sholeh pegawai dengan pencapaian standar kinerja. Kontrol yang dimaksud adalah menjadikan standar kinerja seperti kehadiran yang sesuai dengan jam kerja, kelengkapan administrasi, pemenuhan SOP (standar operation procedure), dll., sebagai bagian dari perilaku kesholehan seperti tutur kata, aktifitas ibadah, dan kesantunan dalam berinteraksi, yang dimasukkan sebagai item penilaian yang akan diberikan rating.<br />
Organisasi dapat menetapkan nilai-nilai kesholehan meliputi pencapaian standar kinerja, karena sesuai dengan tuntutan beragama dalam Islam.</p>
<p>Dengan demikian, pendekatan politis atas dasar tujuan organisasi dibatasi dengan tuntutan agama yang hanya menginginkan orang yang bersungguh-sungguh, optimal, dan pantang menyerah. Setiap pegawai yang tidak dapat menunjukkan kriteria seperti itu, dapat dengan mudah diberikan pendekatan rasional terhadap hasil penilaian kinerjanya yang rendah. Dengan kata lain, manajer atau kepala sekolah dapat memberhentikan pegawai/guru yang tidak kunjung memenuhi standar kualitas dengan cara yang santun, terhormat, dan jujur. Hal itu tentu saja dapat dilakukan manajer dengan mudah, karena itu adalah amanat Allah (dan juga organisasi).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=90&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2010/06/21/penilaian-kinerja-guru-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2010/06/mshn143l.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mshn143l</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solidarity for Palestine</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/29/solidarity-for-palestine/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/29/solidarity-for-palestine/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 08:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel lepas]]></category>
		<category><![CDATA[ben heine]]></category>
		<category><![CDATA[gaza]]></category>
		<category><![CDATA[genocide]]></category>
		<category><![CDATA[hate speech]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[modern history]]></category>
		<category><![CDATA[palestine]]></category>
		<category><![CDATA[sabbah.biz]]></category>
		<category><![CDATA[solidarity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[No words can say for the worst naked genocide attack in the modern history (by an untouchable non-like human being species country&#8217;s army called Israel, which no land, no honors, and no any legality on all they have and they do) against Palestinians and they land nowadays, but : That&#8217;s Enough!!! Image by : Ben [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=69&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>No words can say for the worst naked genocide attack in the modern history (by an untouchable non-like human being species country&#8217;s army called Israel, which no land, no honors, and no any legality on all they have and they do) against Palestinians and they land nowadays, but : That&#8217;s Enough!!!</p>
<p><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/gaza-under-siege-ben-heine.jpg?w=300&#038;h=355" alt="gaza-under-siege-ben-heine" title="gaza-under-siege-ben-heine" width="300" height="355" class="alignnone size-full wp-image-70" /></p>
<p>Image by : <a href="http://benjaminheine.blogspot.com/">Ben Heine</a></p>
<p><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/free_palestine.png?w=400&#038;h=800" alt="free_palestine" title="free_palestine" width="400" height="800" class="alignnone size-full wp-image-72" /></p>
<p>Image from : <a href="http://sabbah.biz/mt/archives/2008/01/01/2008-free-palestine/">Sabbah.biz</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=69&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/29/solidarity-for-palestine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/gaza-under-siege-ben-heine.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza-under-siege-ben-heine</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/free_palestine.png" medium="image">
			<media:title type="html">free_palestine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangisan Telanjang Rachma Azhari</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/27/tangisan-telanjang-rachma-azhari/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/27/tangisan-telanjang-rachma-azhari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 04:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel lepas]]></category>
		<category><![CDATA[air mata]]></category>
		<category><![CDATA[infotainment]]></category>
		<category><![CDATA[rachma rahma azhari]]></category>
		<category><![CDATA[roy suryo]]></category>
		<category><![CDATA[tangisan]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[vulgar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini di infotaintment kita saksikan Rachma Azhari dengan bersimbah air mata menyesalkan tindakan Roy Suryo yang mengungkap keaslian foto-foto telanjangnya bersama Ayu Azhari, sang kakak, yang beredar di internet. Tindakan Roy Suryo dinilai merugikan karena orang jadi banyak yang tahu tentang foto tersebut dan melakukan pre judisial statement. Menurut Roy, foto telanjang Rachma asli. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=65&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/12054630330.jpg?w=300&#038;h=376" alt="12054630330" title="12054630330" width="300" height="376" class="alignnone size-full wp-image-66" /><br />
Pagi ini di infotaintment kita saksikan Rachma Azhari dengan bersimbah air mata menyesalkan tindakan Roy Suryo yang mengungkap keaslian foto-foto telanjangnya bersama Ayu Azhari, sang kakak, yang beredar di internet. Tindakan Roy Suryo dinilai merugikan karena orang jadi banyak yang tahu tentang foto tersebut dan melakukan pre judisial statement. Menurut Roy, foto telanjang Rachma asli. Menurut Rachma tidak. Nah lo Roy!</p>
<p>Dari sisi teknologi, sebenarnya, tidak sulit untuk mangetahui bahwa sebuah foto asli atau tidak. Tidak perlulah seorang Roy suryo melakukannya. Seorang awam seperti saya pun bisa melakukannya. Cukup dengan  membaca “DNA” dari sebuh foto atau gambar menggunakan text editor semisal notepad, maka akan diperoleh data tentang kamera apa yang digunakan termasuk merek dan typenya, tanggal berapa dan jam berapa foto itu di ambil. Kalau foto itu sudah diolah dengan software grafis, maka yang terbaca adalah nama dan versi dari software grafisnya. Dengan kata lain foto tersebut dapat diklaim sudah tidak orisinil lagi.</p>
<p>Di sisi lain, Rachma yang memprotes ke ‘usilan’ Roy melalui jumpa pers justru sedang melakukan global campaign kepada masyarakat untuk sama-sama melihat, sekaligus menilai apakah foto itu asli atau tidak. Campaign itu pasti berdampak. Contohnya saya, walaupun saya malas melihat foto Rachma yang telanjang, setidaknya otak saya sudah tercemar dengan info remeh seperti itu.  </p>
<p>Cuma sekarang yang saya ingin tahu, kenapa Rachma Azhari menangis? Ada banyak kemungkinan Rachma Azhari menangis. Beberapa di antaranya adalah:<br />
1.	Jengkel dengan Roy Suryo yang bilang fotonya asli<br />
2.	Malu kelihatan gak pakai baju<br />
3.	Merasa tidak pernah foto dengan pose seperti itu<br />
4.	Menyesal<br />
5.	Takut dosa<br />
6.	Belum dibayar fotografernya, kok sudah ditayangkan<br />
7.	Posenya tidak sesuai keinginan<br />
8.	Hasil gambarnya kurang bagus<br />
9.	Ternyata kurang sexy<br />
10.	Kesal kenapa baru sekarang dipublikasikan<br />
11.	  Anaknya protes, “mama, kamu murahan sekali”</p>
<p>Mudah-mudahan Rachma menangis karena alasan nomer 3 atau kalau bener pernah foto seperti itu, alasan nangisnya nomer 4 dan 5 (sama nomer 11 deh). </p>
<p>Tapi kalu dipikir, sebenarnya aneh kalau Rachma menangis. Kenapa? karena foto tersebut sama sekali tidak membuat kenyataan baru tentang dirinya. Rachma adalah seorang artis cantik yng gemar berpose vulgar di internet. Coba anda ketik ’Rachma Azhari’ di searching box-nya google, lalu klik menu gambar. Hasilnya anda bisa lihat sendiri. Mencari foto yang &#8216;agak sopan&#8217; untuk postingan ini saja, susahnya minta ampun. Aneh khan kalau dia nangis karena foto tersebut? Lain halnya kalau Rachma adalah seorang wanita sholihat yang berkerudung rapih, terkenal gemar mengaji dan jauh dari dugem, barulah air matanya sangat relevan. Nah kalau ini?</p>
<p>Sebagai awam, saya hanya bisa berpesan, Rachma, apa yang kamu lakukan sudah jauh dari jalan Nabi mu, mumpung kamu masih diberi nafas, bertaubatlah. Keindahan tubuhmu tidak ada artinya dibanding siksa kubur dan neraka. Berbuatlah sesukamu tapi ingat, sebentar lagi kamu akan mati, nak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=65&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2008/12/27/tangisan-telanjang-rachma-azhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mharywa.files.wordpress.com/2008/12/12054630330.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">12054630330</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moralitas Pendidikan Anak</title>
		<link>http://mharywa.wordpress.com/2008/11/06/moralitas-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://mharywa.wordpress.com/2008/11/06/moralitas-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 04:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mharywa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mharywa.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa saya membuat judul demikian? Karena anak saya yang berumur 6 tahun sering mengeluh takut datang ke sekolah. Takut bukunya ketinggalan, takut lupa bawa tugas yang tidak sanggup dibuatnya (kecuali oleh bapak ibunya), takut menghadapi ulangan. Oh ya satu lagi: takut datang terlambat. Ia baru kelas satu sd. Baru saja turun dari ayunan ban bekas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=43&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa saya membuat judul demikian? Karena anak saya yang berumur 6 tahun sering mengeluh takut datang ke sekolah. Takut bukunya ketinggalan, takut lupa bawa tugas yang tidak sanggup dibuatnya (kecuali oleh bapak ibunya), takut menghadapi ulangan. Oh ya satu lagi: takut datang terlambat.<br />
Ia baru kelas satu sd. Baru saja turun dari ayunan ban bekas di bawah pohon ceri. Kuncir kuda pada rambutnya yang terhempas ke kanan dan ke kiri ketika berlari masih ada. Senyum lebarnya menampilkan gigi-gigi gerepes karena kebanyakan makan coklat.<br />
Suatu ketika ia menangis karena jawabannya yang dikira betul, disalahkan ibu gurunya. Di mana saja kita harus berbuat baik?, Tanya sang soal. Di mana saja, tulis anak saya. Lalu diikuti tanda silang berwarna ungu di sampingnya. SALAH. Mungkin Ibu guru ingin jawabannya seperti ini: Di sekolah, di rumah, di jalan, di kendaraan, di pasar, di lapangan, di kamar mandi, di toko buku, di terminal, di stasiun, di bandara, di kolam renang, di restoran, di dalam kabin pesawat, di rumah teman, di kelas, di rumah nenek, di kantor kepala sekolah, di ruang guru, di ruang UKS, di perpustakaan, di kantin, di laboratorium komputer, di taman bermain, di dalam mobil jemputan, di dalam kereta api, di dalam masjid, di dalam aula, di atas ojek, .. (he..he.. anda mau meneruskan?)<br />
Di tengah malam ia pernah terbangun dan merintih takut datang ke sekolah. Karena pagi harinya ada ulangan bahasa Inggris. Takut tidak bisa mengerjakan dan nilainya jelek, katanya. Sambil saya peluk, saya bisikkan dengan lembut di telinganya, ”Jangan takut dengan nilai jelek, sayang. Yang penting kamu belajar dengan baik dan tidak menyontek. Ayah tetap sayang”. Diapun kembali tertidur dalam pelukkanku.<br />
Kenyataannya, nilai-nilai anak saya rata-rata bagus. Hampir selalu di atas 8. Itulah yang saya dan istri prihatin. Mengapa keceriaannya sebagian tergantikan dengan kecemasan semacam itu. Anxiety disorder yang disayangkan. Karena kami sama sekali tidak pernah membahas nilai-nilainya yang kurang bagus (pernah ada nilai 6,7 dan 3,5). Yang kami bahas adalah memperbaiki semua jawaban yang salah. Kami menekankan agar belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak berbuat curang. Nilai tidak akan bisa mengukur keindahan pribadimu, nak.<br />
Secara fitrah, anak begitu polos tanpa prasangka. Ia akan bebas menggambar sehelai daun dengan warna-warna imajinatifnya. Namun, begitu gambarnya diberi nilai, maka ia belajar menjadi munafik. Gambar-gambar berikutnya adalah gambar yang dibuat untuk menyenangkan hati sang guru.<br />
Tidak ada yang saya sudutkan dan salahkan dengan tulisan ini. Toh semua sekolah begitu kan? Dan mungkin apa yang dialami anak saya tidak dialami yang lainnya. Hanya saja, sepertinya kita semua sedang berada dalam arah yang salah. Perhaps.<br />
Gimana nih komentarnya, pakar pendidikan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mharywa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mharywa.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mharywa.wordpress.com&amp;blog=459992&amp;post=43&amp;subd=mharywa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mharywa.wordpress.com/2008/11/06/moralitas-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c74ebd7c1e352eae17a54085c973fac8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mharywa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
